Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Harga Ayam dan Telur Stabil, Ukuran Tahu Tempe Mengecil

Jumat 07 Sep 2018 20:14 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani

Pedagang tahu dan tempe di Pasar Lenteng, Jakarta Selatan, menunjukkan dagamgannya, Jumat (7/9).

Pedagang tahu dan tempe di Pasar Lenteng, Jakarta Selatan, menunjukkan dagamgannya, Jumat (7/9).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mempengaruhi harga kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum banyak berimbas pada kebutuhan pangan. Di pasar, harga ayam dan telur cenderung stabil. Meski begitu, ukuran tahu dan tempe mengecil akibat bahan baku yang harus impor.

Jajang, salah seorang pedagang telur di Pasar Lenteng, Jakarta Selatan, mengatakan saat ini harga telur masih di kisaran Rp 23.500 per kilogram. Harga itu cenderung stabil sejak kenaikan harga telur beberapa bulan lalu yang menembus Rp 30 ribu per kilogram.

"Stabil sudah seminggu lebih. Nggak ngaruh dolar naik," kata dia sambil menunggu barang dagangannya itu, Jumat (7/9).

Menurut Jajang, stabilnya harga telur disebabkan stik yang tersedia masih berlimpah. Karena itu, harga yang dipatok disesuaikan dengan harga pasar.

Ia memprediksikan, harga telur masih akan stabil dalam beberapa pekan ke depan. Bahkan, ada kemungkinan untuk turun. "Ke depan kemungkinan turun," kata dia.

Tak hanya di lapak Jajang harga telur stabil. Di lapak milik Khoirul, harga telur juga dipatok dengan harga Rp 23.500 per kilogram. Namun, menurut dia, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ikut memengaruhi harga telur di pasaran. Meski dampaknya tak terjadi secara langsung.

"Ngaruh banget. Naik parah habis Lebaran kemarin," ujar dia sambil memainkan telepon genggamnya.

Ia mengatakan, katika harga telur naik dagangannya akan sepi pembeli. Banyak pembeli, lanjutnya, yang mengeluh meskipun harga tak terlalu tinggi kenaikannya.

"Kalau harga naik, pembeli ngeluh, jual susah," kata lelaki yang membeli telur dari Medan dan Blitar itu.

Pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir juga tak terlalu berimbang pada harga ayam. Menurut Sarto, salah satu pedagang ayam di Pasar Lenteng, harga ayam masih stabil setelah Idul Adha.

Ia menjelaskan, untuk sekilo gram ayam yang sudah dipotong dihargai Rp 32 ribu. Sementara ayam yang masih hidup dihargai Rp 24 ribu per kilonya.

Menurut Sarto, harga ayam saat ini cenderung turun. Sebelumnya harga ayam selalu tinggi sejak Desember 2017.

"Ayam nggak pengaruh dolar. Sebelum Lebaran Haji harga ayam hidup Rp 30 ribu. Dari situ stabil di angka sekarang," kata dia.

Menurut dia, harga ayam stabil karena stok di peternakan masih tersedia. Selama ini, Sarto selalu mengambil ayam dari Parung, Bogor, dan Cikarang, Bekasi. Namun, meski harga ayam cenderung menurun, kata dia, pembeli justru sepi.

Hari itu, hingga siang hari Sarto baru dapat menjual sekitar 150 kilogram daging ayam. Padahal, biasanya dalam sehari ia bisa menjual hingga di atas 200 kilogram daging ayam.

"Kalau di kandang banyak pasaran lagi sepi ya gak pengaruh. Hari ini baru laku 150 kilo. Itu lagi sepi," kata lelaki itu sambil menghitung uang di tangannya.

Siti, salah satu pembeli ayam mengaku, harga ayam saat ini masih cenderung murah. Kalaupun naik, kata dia, jika hanya berkisar Rp 500-1.000 masih bisa diterima.

"Tapi kalau sampai Rp 2.000 ke atas begitu bisa mempengaruhi belanja kebutuhan yang lain. Kalau sudah begitu, kan mau nggak mau ngurangin jatah bahan pokok buat dimakan," ujar dia.

Ukuran tahu tempe mengecil

Nilai tukar rupiah yang melemah juga tak berimbas pada harga tahu dan tempe. Dua jenis makanan yang diaolah dari kedelai itu tetap stabil meskipun bahan baku harus diimpor dari luar negeri. Namun, harga stabil belum tentu ukuran tahu tempe tetap stabil.

Salah satu pedagang tahu tempe di Pasar Lenteng, Adelia mengatakan, dalam sepekan terakhir belum ada kenaikan harga jual dagangannya itu. "Mau naikin gak tega. Harga kedelai sudah naik dari seminggu lalu. Tahu aja kecil-kecil, biasanya gede-gede," kata dia sambil mengiris tempe menjadi lapisan-lapisan kecil.

Adelia menjelaskan, biasanya satu potong tempe dijual dengan harga Rp 5 ribu memiliki berat enam ons. Namun, saat ini satu potong hanya seberat lima ons.

"Kalau nggak gitu, nggak bisa jalan-jalan lewat Cipali alias pulang kampung. Jadi harus disesuaikan dengan bahan baku," katanya berseloroh.

Meski ukurannya mengecil, kata dia, belum terlalu banyak pelanggan yang mengetahuinya. Namun, ada beberapa pelanggan yang bertanya perihal ukurannya yang semakin kecil.

"Paling kaget kok kayaknya kecilan. Terus aku bilang saja suruh nonton berita," ucapnya.

Adelia mengatakan, pengurangan ukuran mau tak mau harus dilakukan karena bahan baku tahu dan tempe adalah kedelai impor. Menurut dia, kualitas kedelai lokal kurang bagus untuk membuat tahu dan tempe.

Karena itu, ketika nilai tukar rupiah melemah, secara otomatis impor kedelai akan terimbas. "Biasanya harga mengikuti dolar. Kalau dolar turun, langsung turun (harga kedelai)," kata dia.

Jika Adelia menjual tempe seberat lima ons dengan harga Rp 5 ribu, Yati justru sudah lebih dulu menjual tempe seberat 4 ons dengan harga Rp 5 ribu. Namun, ukuran itu sudah sejak beberapa pekan terakhir diterapkan.

Sementara untuk harga maupun ukuran tahu, menurut dia belum ada perubahan sama sekali. Ukuran tahu 6 ons masih dihargai Rp 7 ribu. Menurut dia, kenaikan dolar saat ini belum langsung memengaruhi harga tahu dan tempe.

"Kedelai udah naik. Tukang tempe sudah bilang naik kedelainya. Sekarang masih ditahan (harganya)," kata pedagang sayuran di Pasar Lenteng itu.

Meski begitu, belum ada pembelinya yang protes mengenai harga dan ukuran tahu tempe. Menurut dia, harga saat ini masih cenderung stabil.

Salah satu pembeli tahu dan tempe, Aminah mengatakan, harga tempe saat ini masih cenderung biasa. Namun, jika harga terus meninggi akan menjadi masalah bagi belanja bulanannya.

"Di rumah pada suka tahu, apalagi tempe,' kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA