Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Harga Telur Ayam Naik, Penjual: Banyak Pembeli Mengeluh

Selasa 10 Jul 2018 00:49 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Ratna Puspita

Harga Telur Ayam Naik Kembali. Pembeli memilih telur ayam negeri di pasar tradisional, Jakarta, Ahad (1/7).

Harga Telur Ayam Naik Kembali. Pembeli memilih telur ayam negeri di pasar tradisional, Jakarta, Ahad (1/7).

Foto: Republika/ Wihdan
Penjual khawatir akan daya beli masyarakat apabila harga tidak kembali stabil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan harga telur ayam setelah Lebaran menimbulkan keresahan bagi masyarakat, baik penjual maupun pembeli. Dari sisi penjual, mereka cemas akan daya beli masyarakat selama beberapa hari dan pekan ke depan apabila harga tidak kembali stabil. 

Salah seorang penjual di Pasar Kebayoran Lama, Yulia (37 tahun), khawatir jika terus melambung naik, pembeli akan membatasi konsumsi telur ayam yang berdampak pada penurunan penjualannya. Selama tiga pekan ini, ia mengaku, kerap mendengar keluhan dari para pelanggan. 

Meski dagangannya tetap terjual, Sri merasa tidak enak atas berbagai pertanyaan dari pembeli. "Mereka nanya terus-terusan, kok naik terus sih. Saya juga bingung jawabnya," ucapnya kepada Republika, Senin (9/7) siang. 

Saat ini, rata-rata harga telur ayam di Pasar Kebayoran Lama dijual dengan harga Rp 29 ribu per kilogram. Harga tersebut naik hingga Rp 7 ribu dibanding saat pekan Lebaran yang hanya Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu per kilogram. 

Bagi pembeli, peningkatan harga yang terjadi sejak setelah Lebaran ini membuat mereka merasa ‘tercekik’. Pembeli seperti Ardina (28 tahun) yang menjadikan telur sebagai bahan baku untuk membuat kue kering mengaku harus menaikan harga dagangannya hingga 20 persen. 

"Karena bahan bakunya, telur ayam, naik 30 persen. Untung, harga gula pasir stabil," ujar warga Gandaria, Jakarta Selatan, itu. 

Ardina menuturkan, sejauh ini, kenaikan harga kue keringnya belum mendapatkan protes dari pelanggan. Namun, ia khawatir kenaikan harga telur ayam dapat berdampak pada bisnisnya jika tidak segera diantisipasi dengan sigap oleh pemerintah maupun pihak terkait.

Selain pebisnis rumahan seperti Ardina, ibu rumah tangga ikut resah dengan harga telur ayam yang terus merangkak naik ini. Dewi (54 tahun), warga Cipete, Jakarta Selatan, salah satunya. 

Menurutnya, kenaikan harga telur ayam sejak Lebaran terbilang menguras kantong mengingat komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok di rumah. Melihat harga terbaru telur ayam yang sudah menyentuh angka Rp 29 ribu, Dewi terpaksa harus mengurangi jumlah pembelian. 

Biasanya, ia dapat membeli tiga kilogram per pekan untuk lima anggota keluarganya. Kini, Dewi membatasi satu sampai dua kilogram per pekan.

"Itu pun saya belinya dicicil. Hari ini satu kilogram, dua hari kemudian satu kilogram lagi. Biasanya sih langsung tiga kilogram di hari ini, beli lagi minggu depan," ucap Dewi. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES