Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

'Ojek Daring Ciptakan Platform dan Efisiensi'

Jumat 06 Apr 2018 08:26 WIB

Rep: Mas Amil Huda/ Red: Esthi Maharani

 Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/3).

Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/3).

Foto: Republika/Wihdan
Gojek berkontribusi sebesar Rp 9,9 triliun pada perekonomian Indonesia per tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mengatakan, ojek online atau daring menciptakan platform yang mencakup lintas industri. Tak hanya itu, ojek daring juga dinilainya menciptakan efisiensi yang besar.

"Pertama adalah platform, yang kedua adalah efisiensi. Platform ini adalah revolusi kehidupan, dampak pada kehidupan yang sangat besar. Dan yang kedua itu efisiensi yang diciptakan," kata dia, Kamis (5/4).

Rhenald mengatakan, efisiensi itu antara lain diciptakan dari waktu tempuh yang dipersingkat melalui layanan ojek daring. Ojek daring juga dianggap membantu mengatasi persoalan kemacetan dan polusi. Sebab, kata dia, orang tidak harus pergi sendiri ke tempatnya dan tidak harus menambah kendaraan yang ada.

Ia menyebut, hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LD FEB) UI menunjukkan salah satu penyedia layanan transportasi daring yakni Gojek berkontribusi sebesar Rp 9,9 triliun pada perekonomian Indonesia per tahun. Namun, ia memrediksi angka itu lebih besar.

"Angka yang disebutkan oleh Lembaga Demografi itu sebetulnya sudah benar, tapi masih kurang besar angkanya. Dugaan saya, angka dampaknya lebih besar dari itu," ujar Renald.

Menurutnya, riset tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya nilai kreasinya. Ia berpendapat, dalam hal ini transportasi daring seperti Gojek belum dilihat sebagai platform yang lintas industri.

"Ekonom juga harus belajar bahwa mendefinisikan start up baru bukan semata-mata dari single product, karena ini kan menciptakan platform dan kalau platform itu dampaknya bukan cuma di dalam suatu industri tertentu," ujar dia.

Selain nilai efisiensi, transportasi daring juga dinilai memberikan dampak bagi sumber daya manusianya. Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan, data yang menunjukkan bahwa rata-rata penghasilan pengemudi mencapai Rp 3,3 juta atau melampaui Rp 2,8 juta yang sama dengan rata-rata UMK di sembilan wilayah merupakan bagian yang paling menarik dari riset ini.

"Inilah hasil terpenting, bahwa bekerja sebagai pengemudi Gojek ternyata feasible (layak) karena di atas UMR. Ini bisa menjadi alternatif pekerjaan dibandingkan pekerjaan lain, terutama di sektor informal," ujar Tony.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA