Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Bogor Siapkan Area Khusus Pengendara Ojek Daring

Jumat 05 January 2018 21:43 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: M.Iqbal

Deklarasi damai angkot-ojek online di balaikota Bogor.

Deklarasi damai angkot-ojek online di balaikota Bogor.

Foto: Republika/Taufiq Alamsyah

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Perhubungan (Dishub) berencana membangun area khusus bagi pengendara ojek daring menunggu dan mengangkut penumpang. Rencana ini dilakukan guna menertibkan dan memperlancar lalu lintas Kota Bogor.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dishub Kota Bogor, Dody Wahyudin, mengatakan, isu ini sudah disampaikan oleh para koordinator ojek daring dari berbagai perusahaan aplikasi mulai dari Gojek, Grab maupun Uber, akhir Desember. "Salah satu usulan dalam pertemuan itu adalah membuat lokasi atau titik tunggu dan penjemputan," ujarnya ketika dihubungi Republika, Jumat (5/1).

Dengan usulan itu, Dishub Kota Bogor segera menindaklanjuti dengan melakukan kajian dan survei untuk mengetahui titik-titik yang layak dijadikan sebagai area tunggu ojek daring. Dody mengatakan, sebenarnya, usulan untuk membuat area khusus bagi ojek daring sudah tercetus sejak tahun lalu. Salah satunya ketika melihat konsep serupa telah diterapkan di beberapa kota, termasuk Jakarta yang telah membangun percontohan di sekitar Stasiun Sudirman. Bekasi pun sudah membuat 20 titik tunggu sementara (TTS).

Pengaplikasian rencana ini semakin gencar mengingat Peraturan Wali Kota (Perwali) untuk menertibkan ojek daring terbit pada April 2017. "Kami melihat, pembangunan lokasi atau titik penjemputan untuk ojek daring akan membantu dalam penertiban," kata Dody.

Secara kewajiban, Dia mengatakan, Dishub Kota Bogor sebagai pembina teknis memang tidak ada kewajiban khusus membangun area tunggu untuk ojek daring. Tapi, atas dasar ketertiban pengaturan dan kelancaran lalu lintas Kota Bogor, Dishub berkomitmen menjalankan rencana ini.

Sejauh ini, Dishub belum bisa memprediksi wilayah mana saja yang menjadi target pembangunan. Tapi, Dody menuturkan, ada beberapa solusi yang sudah dipertimbangkan. "Pertama, jelas bukan di badan jalan yang dalam artian tidak mengganggu arus lalu lintas," ujarnya.

Solusi kedua, apabila ada lahan atau lokasi yang sekira mumpuni menjadi titik penjemputan, luas lahan yang dibutuhkan tidak begitu besar. Dody mengatakan, setidaknya bisa menampung sampai 10 kendaraan roda dua.

Ketiga, kalaupun tidak ada lahan lagi, Dishub akan memanfaatkan area parkir yang masih memungkinkan. "Kami juga pertimbangkan terkait retribusi. Apakah akan mempengaruhi target pendapatan retribusi kami atau tidak," tutur Dody.

Sampai saat ini, Dishub belum menargetkan waktu pasti pembangunan area tunggu dan penjemputan untuk ojek daring. Sebab, survei dan kajian secara langsung maupun tidak langsung melalui data sekunder dan primer baru dilakukan pada pekan depan.

Terkait rencana ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat, mengaku belum mendengar dari Dishub. "Tapi, saya akan mendukung apabila pembuatan area khusus untuk ojek online ini bisa membantu ketertiban lalu lintas," ucapnya.

Hanya, Ade menegaskan, memang dibutuhkan kajian terlebih dahulu untuk mengetahui titik area yang tepat dibangun dan seberapa besar luasan. Hal ini dilakukan guna menghindari lalu lintas yang justru akan semakin padat pasca pembangunan area tunggu dan penjemputan ojek daring.

Terkait urgensi, Ade belum bisa memastikan apakah pembangunan ini harus segera dilakukan. Sebab, sejauh ini, Pemkot Bogor belum melakukan kajian mendalam terkait seberapa besar dampak kehadiran ojek daring terhadap lalu lintas. "Harus ada survei lagi", katanya.

Rencana ini menimbulkan ragam reaksi dari beberapa pengendara ojek daring di Kota Bogor. Hasyim (24 tahun), mitra dari Gojek, mendukung penuh pembangunan area tunggu dan penjemputan. Selama ini, dia sering merasa kagok apabila harus berdiam di pinggir jalan sembari menunggu pesanan maupun penumpang.

Sementara itu, mitra dari Grab, Parman (35 tahun), mengatakan, rencana ini seharusnya sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, sebelum ojek daring semakin masif di Kota Bogor. "Karena pengemudi kan sekarang sudah terbiasa nunggu di pinggir jalan, termasuk penumpangnya," ujarnya.

Apabila pembangunan ini jadi diadakan, Parman berharap, Pemkot Bogor bisa melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada para sopir. Tidak sekadar memberi tahu lokasi, juga teknis untuk berhenti dan menunggu.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES