Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Tiga Cara Hindari Difteri

Selasa 12 Desember 2017 07:44 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

Imunisasi Massal Difteri. Seorang balita menangis saat melakukan imunisasi Difteri di Posyandu Mawar, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (11/12).

Imunisasi Massal Difteri. Seorang balita menangis saat melakukan imunisasi Difteri di Posyandu Mawar, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (11/12).

Foto: Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Jumlah kasus difteri di Jakarta terdapat peningkatan dari  2014 sebanyak empat kasus menjadi sembilan kasus pada 2015. Kemudian sebanyak 17 kasus pada 2016 dan saat ini sudah ada 25 kasus.

"Dan kematian ada dua kasus, dua orang yang fatal sehingga meninggal," kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, usai sosialisasi program Outbreak Response Immunization (ORI) di SMA Negeri 33 Jakarta Barat, Senin (11/12).

Wabah Difteri juga menyedot perhatian Andalan Nasional Gerakan Pramuka Dr Hariyono yang mengaku prihatin dengan meluasnya difteri di 20 provinsi dengan 593 kasus yang menewaskan 32 anak. Gerakan Pramuka, kata Hariyono memberikan tiga saran agar masyarakat terhindar dari penyakit menular itu. 

"Penyakit difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diphteriae. Ini termasuk penyakit menular yang akut, sehingga mudah ditularkan ke anak atau orang lain, ujar Dr Hariyono dalam keterangan persnya kepada Republika.co.id, Selasa (12/12). 

Gejala dari penyakit tersebut, menurut dia, meliputi demam tinggi, menggigil, sakit leher, sulit bernafas, dan pilek. Gejala lainnya adalah pembesaran kelenjar getah bening leher, terbentuknya lapisan tipis putih keabu-abuan di leher penderita yang menutupi saluran nafas. Menurut dia, cara pencegahannya dengan vaksinasi Difteri Pertusis Tetanus kepada bayi, meskipun penyakit ini sejatinya dapat menyerang berbagai jenis usia. 

Vaksinasi Difteri Pertusis Tetanus waktu bayi memegang peranan sangat penting, jelas dia. 

Tips selanjutnya, kata Hariyono adalah dengan menjaga hidup sehat, yaitu menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontaminasi dengan penderita seperti menghindari percikan air ludah atau sekret, sentuhan langsung, pakaian penderita difteri, tidak makan dan minum di sembarang tempat.

Bila ada kecurigaan penderita difteri, segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pengobatan yang baik, kata Hariyono. 

Program ORI di Jakarta dimulai dilaksanakan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Sasaran ORI Jakarta Utara dan Jakarta Barat berjumlah 1.238.283 jiwa. ORI dilakukan di seluruh sekolah TK, PAUD, SD/MI, SMP/MTS serta perguruan tinggi. Selain itu juga dilakukan di fasilitas kesehatan, RSUD serta tempat lain seperti daycare, apartemen dan rusun.

Penyakit difteri adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Penyakit ini memiliki masa inkubasi dua-lima hari dan akan menular selama dua-minggu minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, sulit bernapas.

Penyakit ini sangat menular dan dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani secara cepat. Namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap (imunisasi dasar pada usia dua bulan, empat bulan dan enam bulan, 18-24 bulan dan usia sekolah dasar).

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES