Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Menyelamatkan Ekosistem di Muara Gembong

Kamis 26 Okt 2017 04:16 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Potret desa pantai sederhana, Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang tenggelam akibat abrasi air laut. Rabu (23/8).

Potret desa pantai sederhana, Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang tenggelam akibat abrasi air laut. Rabu (23/8).

Foto: Republika/Dea Alvi Soraya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erik Purnama Putra, wartawan Republika

Akhyarul Umam sangat sedih melihat pemandangan tanaman bakau di sekitarnya yang rusak. Dari perahu, ia menyusuri aliran di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, yang kondisinya berubah dibandingkan beberapa tahun lalu. Sebagai warga asli Muara Gembong, Umam mengetahui daerah pantai di Laut Jawa makin menggerus daratan. Rusaknya tanaman bakau yang berfungsi menahan abrasi turut diikuti dengan menghilangnya berbagai satwa dan ekosistem.

Warga pun makin kesulitan menemukan burung dan orang utan karena alih fungsi lahan pesisir yang sempat dijadikan area tambak, lahan pertanian, hingga pertambangan. Tidak ingin larut dalam kegeraman dan kesedihan, Umam pun mendirikan kelompok bernama Save Mugo, yang merupakan kependekan Muara Gembong. Sejak 2013 ia bersama rekanrekannya menyadarkan kepedulian masyarakat untuk menjaga lingkung annya. Dengan cara swadaya, ia berte kad mengembalikan kerusakan lahan pesisir yang sudah sedemikian parah.

"Abrasi itu sudah lama dan awal 2005, terjadi pembukaan tambak besar-besaran yang hasilnya dibeli perusahaan membuat warga setempat mengubah hutan mangrove. Dampaknya beberapa tahun air laut naik dan menghilangkan desa mereka karena tidak ada lagi penahan ombak," ujar Umam saat ditemui Republika dalam peluncurkan buku Potensi Keaneka ragaman Hayati Muara Gembong di Universitas Nasional, belum lama ini.

Koordinator Komunitas Save Mugo ini mengatakan, pada awalnya pembukaan tambak membuat aktivitas ekonomi warga meningkat. Namun, kesejahteraan yang didapat hanya terasa sebentar, sebelum bencana datang. Umam menuturkan, hilangnya hutan bakau membuat sedikit demi sedikit rumah warga tergerus arus ombak.

Keprihatinan itulah yang pada akhirnya mengantarkan Umam tergerak untuk melakukan reboisasi di pesisir wilayah paling utara Kabupaten Bekasi itu. Selama empat tahun ini pihaknya sudah menanam sekitar 100 ribu bibit bakau atau setara mengembalikan 10 hektare lahan rusak di Pantai Bahagia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA