Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Wednesday, 15 Zulhijjah 1441 / 05 August 2020

Ini Penyebab Warga Jabodetabek Enggan Beralih ke Transportasi Umum

Selasa 28 Mar 2017 08:18 WIB

Rep: Singgih Wiryono/ Red: Andi Nur Aminah

Transportasi umum (ilustrasi)

Transportasi umum (ilustrasi)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inside.ID baru-baru ini melakukan riset tentang transportasi umum untuk warga Jabodetabek. Hasil riset tersebut menunjukan, faktor utama penyebab keengganan pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum adalah belum terintegrasinya feeder (angkot/mikrolet) ke halte Transjakarta ataupun stasiun Kereta.

“Salah satu problem untuk menggunakan kendaraan umum adalah belum terintegrasinya feeder dari rumah menuju halte atau stasiun," ujar head of creative research Inside.ID, Andres Christian dalam siaran pers, Senin (27/3).

Andreas mengatakan, memang sudah banyak warga Jabodetabek yang menggunakan kendaraan umum. Namun, angka yang diperoleh belum bisa mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. "Angka ini masih kurang banyak untuk bisa menyelesaikan kemacetan,” katanya

Berdasarkan hasil survey Inside.ID, dia mengatakan, kendaraan umum yang paling diminati untuk digunakan ke kantor adalah bus atau angkot 62 persen, kereta commuter line (KRL) 16 persen, dan ojek 12 persen.

Andreas mengatakan, sejak 2004 pemerintah mulai membenahi sistem transportasi massal seperti membuat Transjakarta dan inovasi pembayaran elektronik untuk kereta commuter line pada 2013 agar memudahkan masyarakat. Melihat banyaknya inovasi dan perbaikan yang dilakukan pemerintah, sebanyak 81 persen pengguna mobil pribadi pernah mempertimbangkan untuk menggunakan kendaraan umum. 

Andreas menjelaskan, alasannya dari pengguna kendaraan cukup bervariasi. Tetapi mayoritas beralasan dengan menggunakan kendaraan umum mereka bisa menghemat uang dan waktu. "Selain itu juga terkadang kendaraan umum dipilih ketika mereka malas membawa mobil pribadi," ujarnya.

Sedangkan antusias pengguna motor, dia mengatakan, hanya sekitar 54 persen yang pernah mempertimbangkan untuk beralih ke kendaraan umum.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA