Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Lemkapi: Negara tak Boleh Kalah dari KKB di Papua

Rabu 05 Dec 2018 22:17 WIB

Red: Bayu Hermawan

Prajurit TNI berdoa sebelum menaiki helikopter dengan tujuan di Wamena, Papua, Rabu (5/12

Prajurit TNI berdoa sebelum menaiki helikopter dengan tujuan di Wamena, Papua, Rabu (5/12

Foto: Antara/Iwan Adisaputra
Lemkapi mendukung TNI-Polri menindak tegas KKB yang membunuh pekerja proyek

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) mendukung Polri dan TNI untuk menindak tegas kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang membunuh pekerja proyek jembatan dan seorang anggota TNI di Kabupaten Nduga, Papua, 1 dan 2 November.

"Kita dukung Polri dan TNI melakukan tindakan tegas, dan kita harapkan segera menangkap pelaku KKB yang mengacau," kata Direktur Eksekutif Lemkapi Dr Edi Hasibuan di Jakarta, Rabu (5/12) malam.

Edi menegaskan negara tidak boleh kalah dengan kelompok kriminal bersenjata. Mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (kompolnas) mendukung tindakan Kapolri dan Panglima TNI yang saat ini sudah menyebar pasukan untuk mengendalikan situasi keamanan Papua dan melakukan tindakan hukum.

"Kami yakin Polri dan TNI akan segera menangkap pelaku KKB yang sudah menewaskan karyawan dan aparat yang tak berdosa. Dengan tindakan cepat Polri dan TNI kita harapkan situasi di sana akan kembali kondusif," ujarnya.

Para pekerja dari PT Istaka Karya selaku kontraktor proyek dibunuh saat membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak di jalur Trans Papua, Nduga. Selain itu, tiga pekerja yang lolos dari upaya pembunuhan telah ditemukan aparat keamanan dan telah dirawat RSUD Wamena.

Personel gabungan TNI-Polri juga sudah dikirim ke Nduga untuk mengevakuasi puluhan jenazah. Menurut Edi Saputra, pembangunan jalan Trans Papua melewati medan yang sangat sulit dan berat serta membutuhkan jaminan keamanan.

"Mari kita dukung kerja keras pemerintah yang menginginkan pemerataaan pembangunan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Papua," ucap pakar kepolisian ini.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA