Senin, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Senin, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Polisi Sudah Tangkap Tujuh Penyebar Hoaks Ricuh Mahasiswa

Rabu 19 Sep 2018 07:36 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Teguh Firmansyah

Hoax. Ilustrasi

Hoax. Ilustrasi

Foto: Indianatimes
Pelaku mengunggah videpo hoaks untuk menaikkan akun rating Youtube.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepolisian kembali menangkap para pelaku yang menyebarkan hoaks simulasi pengamanan Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam video yang disebar seolah terjadi kerusuhan demo mahasiswa di MK dan Istana Negara.

Menurut keterangan polisi, hingga Rabu (19/9), jumlah pelaku penyebar hoaks yang ditangkap mencapai tujuh orang.

Mereka yang diciduk antara lain Suhada Al Syuhada Al Aqse, Muhammad Yusuf dan Nugrasius. Kemudian, menyusul Syahid Muhammad Ridho, Kharis Muhamad Apriawan, serta Irwansyah pada Senin (17/9).

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Rachmad Wibowo mengatakan, para tersangka mengunggah video dan foto simulasi pengamanan MK sebagai aksi mahasiswa yang berujung kericuhan.

"Pelaku melakukan ini (mengunggah video hoaks) bertujuan untuk menaikan rating akun YouTube miliknya," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (19/9).

Seluruh pelaku dijerat Pasal 14 ayat (2) dan atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Baca juga,  Polisi Tangkap Penyebar Hoaks #MahasiswaBergerak.

Berdasarkan ketentuan disebutkan, "Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti kabar itu akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran di masyarakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi, tingginya dua tahun."

Tersangka Kharis juga dikenai UU ITE. Ia akan dijerat pasal 51 ayat (1) jo pasal 35 UU ITE, dengan sanksi 12 tahun dan/atau denda Rp 12 miliar.

"Karena diduga telah dengan sengaja dan tanpa hak memanipulasi informasi elektronik dengan tujuan agar informasi elektronik tersebut dianggap seolah-olah data otentik," kata Rachmad dalam keterangan tertulisnya.

Sebelumnya Polri melakukan simulasi pengamanan pemilu di Gedung MK pada Jumat (14/9). Namun kegiatan tersebut justru menjadi korban hoaks. Berbagai video dan foto diunggah ke Internet dikombinasikan dengan beberapa gambar beberapa tahun lalu dengan keterangan bahwa terjadi ricuh gerakan mahasiswa di MK dan Istana Negara, di mana keduanya terletak berdekatan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA