Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Ali Fauzi Ibaratkan Terorisme dengan Komplikasi Penyakit

Jumat 18 May 2018 02:15 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ratna Puspita

Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/5).

Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/5).

Foto: Antara/Zabur Karuru
Pengibaratan komplikasi ini karena akar atau penyebab terorisme tidak tunggal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Lingkar Perdamaian Ali Fauzi Manzi mengibaratkan terorisme sebagai komplikasi penyakit. Ia memgatakan pengibaratan komplikasi ini karena akar atau penyebab terorisme tidak tunggal.

Ali mengatakan lantaran akar masalah yang komoleks, penanganannya pun harus dilakukan berdasarkan berbagai aspek, perspektif, dan metodologi. "Cara penanganan tak bisa dilakukan dengan metode tunggal," ujar Ali dalam diskusi di Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Jakarta Pusat, Kamis (17/5).

Ali pun menerangkan kompleksitas ini dapat ditunjukkan dari panjangnya proses infiltrasi atau penanaman ideologi terorisme. Dia pun mengambil kasus keluarha Dita Oepriyanto yang meledakkan bom di tiga gereja pada Ahad (13/5) lalu.

Ali berpendapat apa yang Dita lalukan terhadap keluarganya tentu bukan buah sari sesuatu yang instan. Proses radikalisasi sudah dimulai sejak usia dini terhadap keluarga Dita.

Dia mengatakan radikalisasi sejak dini itu membutuhkan cara khusus untuk melakukan deradikalisasi. "Apa pun kalau sudah soal ideologi tentu akan sangat susah. Kecuali dengan trik-trik tertentu," tuturnya.

Untuk itu, mantan kepala instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah Jawa Timur tersebut menyarankan agar ada 'dokter spesialis' untuk memberantas terorisme. 'Dokter spesialis' ini haruslah pihak yang memahami kompleksitas teroris seperti mantan pelaku atau anggota jaringan teroris.

Keterlibatan pihak-pihak yang pernah mengalami 'penyakit' terorisme itu juga untuk lebih mendorong kampanye pencegahan. "Saya Ali Fauzi bukan dokter spesialis, tetapi saya pernah mengalami penyakit itu sejak umur 18 tahun. Sekarang, bisa 'sembuh' dan menyembuhkan," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Penelitian Intoleransi dan Radikalisme LIPI Cahyo Pamungkas menjelaskan, terorisme berakar pada radikalisme. Radikal, lanjut dia, berakar pada sikap intoleran.

Karena itu, ia menilai, intoleransi dalam beragama akan menjadi lahan subur bagi radikalisme yang bermuara pada terorisme. "Maka kita tidak bisa menyepelekan intoleransi. Terutama dalam kehidupan beragama," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Foto Udara Mina, Arafah dan Makkah

Selasa , 21 August 2018, 11:11 WIB