Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Dari Mana Munculnya JAD yang Dilabeli Teroris?

Senin 14 Mei 2018 17:48 WIB

Rep: umar mukhtar/ Red: Joko Sadewo

Sat Brimob Polda Jatim melakukan penjagaan di sekitar Polrestabes Surabaya setelah terjadi ledakan, Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5).

Sat Brimob Polda Jatim melakukan penjagaan di sekitar Polrestabes Surabaya setelah terjadi ledakan, Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/5).

Foto: Antara/Didik Suhartono
JAD awalnya dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), yang merupakan pecahan dari MMI.

REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia diterpa teror dalam beberapa hari ini. Selasa (8/5) malam, narapidana teroris (napiter) membuat kerusuhan di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Keributan ini menyebabkan lima anggota kepolisian tewas karena luka sayatan di beberapa bagian tubuh.

Dua hari berselang, Kamis (10/5) malam, orang tak dikenal menyerang anggota Intel Brimob. Anggota tersebut ditusuk di sekitar Mako Brimob. Selang beberapa hari, tepatnya pada Ahad (13/5) kemarin, teror kembali terjadi, bukan di Jakarta melainkan di Surabaya.

Dan teror terus berlanjut hingga hari ini. Giliran Polrestabes Surabaya yang dihantam bom.

Terkait bom di tiga gereja di sana, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut pelaku pengeboman adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Dua kelompok ini, selama ini dilabeli polisi sebagai pendukung utama ISIS.

Desember 2016 lalu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius juga pernah menyatakan JAD merupakan kelompok yang paling diwaspadai pergerakannya di Indonesia saat ini. Jaringan terorisme yang lain diakui masih ada, tapi yang lebih diwaspadai adalah JAD.

"Yang sekarang punya afiliasi langsung dengan jaringan global, yaitu JAD," kata Suhardi.

Pengamat Terorisme dari Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ali Asghar mengatakan muasal JAD yakni dari kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

JAT sendiri, lanjut Ali, merupakan pecahan dari kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pimpinan Abu Bakar Baasyir. MMI awalnya banyak diisi oleh orang-orang yang merupakan alumni, yang pernah ikut ke Afghanistan. Mereka menyebutnya mujahidin Afghanistan. Salah satu di antaranya adalah Aman Abdurrahman.

Sebagian anggota kemudian hengkang dari MMI, lalu membentuk JAT. Alasan mereka keluar lantaran Abu Bakar tidak menghendaki sistem pergantian kepemimpinan yang otomatis membuatnya terus memimpin MMI sampai akhir hayat.

"Abu Bakar tidak menghendaki pergantian pengaderan. Karena ini namanya jamaah, maka dia harus memimpin sampai akhir hayat. Kemudian sebagian anggota sepakat bikin jamaah sendiri, namanya Jamaah Ansharut Tauhid," kata dia menjelaskan kepada Republika.co.id, Senin (14/5).

Ali mengatakan, JAT dibentuk pada 2008. Selang dua tahun kemudian, tepatnya 2010, Abu Bakar ditahan sehingga membuat peta kekuatan jaringan mereka melemah. Di saat yang sama, Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) melakukan deklarasinya secara global.

"Kelompok ini (JAT) kemudian berbaiat kepada ISIS. Baiat ini dijembatani oleh Bahrun Naim," tutur dia. Lantas, pada 2015, Bahrun Naim mendeklarasikan adanya JAD yang sebetulnya memiliki cita-cita yang sama dengan JAT, yaitu Daulah Islamiyah.

Bahrun Naim, dalam kondisi itu, berada di Suriah dan menyerahkan mandat kepada Aman Abdurrahman untuk memimpin JAD di Indonesia. Karena ini pula, menurut Ali, Aman merupakan tokoh kunci JAD di Indonesia. Saat terbentuk, JAD menjadi seperti agen yang mengirimkan warga Indonesia ke Suriah.

"Bahrun Naim kan di Suriah, sebagai komunikator di Suriah. Di Indonesia kemudian diambilalih oleh Aman Abdurrahman. Jadi JAD ini menjadi semacam jembatan warga Indonesia untuk berangkat ke Suriah," jelas dia.

Aman Abdurrahman adalah terdakwa kasus bom di Jalan MH Thamrin beberapa tahun lalu. Dia diduga memiliki andil meredam kericuhan dan penyanderaan Rutan Markas Korps Brimob, Rabu (9/5) lalu.

Jumat (11/5) lalu, Aman seharusnya menjalani sidang penuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kuasa hukum terdakwa Aman Abdurrahman, Asrudin Hatjani mengatakan penundaan pembacaan sidang tuntutan Aman diduga dilatarbelakangi peristiwa rusuh di rutan Mako Brimob.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA