Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Pengamat: Kasus Sukma Dilanjutkan akan Timbulkan Polarisasi

Jumat 06 April 2018 19:25 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Bilal Ramadhan

Sukmawati Soekarnoputri

Sukmawati Soekarnoputri

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sukmawati harus mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menyampaikan apabila kasus hukum yang menimpa Sukmawati diteruskan akan melahirkan polarisasi kembali dalam masyarakat. Oleh karena itu, Abdul Fickar menyarankan agar kasus puisi 'Ibu Indonesia' diselesaikan secara persuasif saja.

Namun, kata Abdul Fickar, penyelesaian persuasif itu tidak berarti membiarkan begitu saja, tetapi juga harus ada kesepakatan bersama. "Selain Sukmawati harus mengakui kesalahannya juga harus meminta maaf kepada umat Islam dalam surat kabar nasional," jelas Abdul Fickar, saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (6/4).

Abdul Fickar menambahkan, lazimnya sebuah karya sastra, termasuk puisi seharusnya hanya dapat dipersoalkan dalam sebuah forum sastra dan kritik sastra. Namun karena puisi yang dirangkai dari kata-kata dan semestinya menjadi sebuah estetika secara universal dapat dinikmati semua orang tanpa pembatasan apapun.

Justru puisi yang dibacakan Sukmawati beberapa waktu lalu menimbulkan ketersinggungan. "Ini artinya ada kekeliruan dalam pemilihan kata dan puisi seperti ini telah terjebak menjadi pamflet," ungkapnya.

Oleh karena itu, Abdul Fickar, sebaiknya permintaan maaf dalam hal ini dengan satu halaman di beberapa koran nasional. Hal itu dilakukan, di samping diletakan sebagai sanksi juga sebagai konsensus untuk menutup kasus ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Foto Udara Mina, Arafah dan Makkah

Selasa , 21 August 2018, 11:11 WIB