Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Polisi Tangkap MCA, Jokowi Nilai Kondisi Medsos Masih Anget

Selasa 06 March 2018 13:16 WIB

Rep: Debbie Susanto/ Red: Ratna Puspita

Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo.

Foto: Republika/ Wihdan
Jokowi menilai masih banyak akun media sosial yang menyebarkan berita palsu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan penangkapan jaringan Saracen dan Muslim Cyber Army belum membuat lalu lintas informasi di media sosial menjadi lebih dingin. Keduanya merupakan kelompok yang diduga menyebarkan informasi bohong atau hoaks, dan ujaran kebencian atau hate speech melalui media sosial.

Jokowi menilai kondisi tersebut lantaran masih banyak akun media sosial menyebarkan berita palsu dan membuat masyarakat resah. "Ndak (dingin), masih anget. Makanya ini harus selesaikan tuntas biar adem semuanya," kata Jokowi usai mengecek Sirkuit Sentul, Bogor, Selasa (6/3).

Kepolisian telah mengamankan salah satu kelompok yang kerap menebar pemberitaan bohong dengan nada kebencian, Muslim Cyber Army (MCA). Sebelumnya, kepolisian juga mengungkap kelompok serupa, yakni Saracen.

Jokowi menilai penangkapan oknum yang kerap melakukan pemberitaan bohong ini sesuai dengan intruksi yang dia jabarkan beberapa waktu lalu. Baik itu elompok Saracen, MCA, maupun kelompok lain yang memang meresahkan harus ditindak tegas. Penindakan juga tidak boleh setengah-setengah.

Menurut Jokowi, keberadaan penyebar kebencian kepada masyarakat memang tidak bisa dibiarkan. Kepolisian harus tegas dalam menindak permasalahan ini sehingga tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat karena kabar yang disebar para oknum.

"Entah motifnya, motif ekonomi, entah politik, tidak boleh seperti itu. Saya sudah perintahkan ke Kapolri kalau ada pelanggaran tindak tegas. Jangan ragu-ragu," papar Jokowi.

Ketika memberikan sambutan pada pembagian sertifikat sesaat sebelum mengecek Sirkuit Sentul, Jokowi juga menyinggung mengenai informasi di media sosial melalui sejumlah akun yang menyebut dia adalah antek dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak akun media sosial yang kerap mengkait-kaitkan dirinya sebagai perpanjangan dari PKI yang sebenarnya sudah tidak ada di Indonesia.

Jokowi pun sempat geram dan ingin marah, tetapi sulit mengungkapkannya. Jokowi hanya bisa menyampaikan Indonesia adalah negara besar dengan keberagaman dan kemajemukan.

Untuk itu, semua elemen masyarakat dari mana pun harus bisa menjaga persaudaraan dan persatuaan bangsa serta tanah air Indonesia. Ini menjadi hal penting untuk Indonesia ke depan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES