Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

'Ada Tokoh di Balik Penyerangan Terhadap Tokoh Agama'

Kamis 22 February 2018 11:39 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Andi Nur Aminah

Ustadz Fahmi Salim

Ustadz Fahmi Salim

Foto: dok.Pribadi
Tidak mungkin terjadi di beberapa tempat dengan waktu yang hampir berdekatan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Penyerangan dan penganiayaan terhadap tokoh agama yang sering terjadi akhir-akhir ini, diduga ada dalang yang memotori penyerangan tersebut. Terlepas dari pelakunya yang dianggap menderita gangguan jiwa.

Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Fahmi Salim mengatakan, ada pola yang terjadi dalam rentetan kasus yang terjadi selama ini dan tidak terjadi secara kebetulan. Sebab, kasus penyerangan terhadap tokoh agama tersebut, terjadi di beberapa daerah yang menyerang tokoh ulama dalam waktu yang berdekatan.

"Tidak mungkin terjadi di beberapa tempat dengan waktu yang hampir berdekatan, kemudian dikatakan itu tidak disengaja," kata Fahmi kepada Republika.co.id, Jakarta, Kamis (22/2).

Dia mengatakan, memang yang berhak mengatakan orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut yaitu pihak rumah sakit, yang telah melakukan pengecekan terhadap mereka. Sehingga, kepolisian memgambil kesimpulan dari pemeriksaan tersebut. Namun, hal tersebut tidak bisa dibenarkan secara keseluruhan. Sebab, pelaku menurutnya, tidak bisa dikatakan mengalami gangguan jiwa 100 persen.

"Bagaimana orang gila kemudian Shalat Subuh pagi-pagi, jaraknya 500 meter atau satu kilo meter dari rumahnya, kemudian mengincar seseorang. Itu kan sebenarnya tidak gila seratus persen. Ada ingatan-ingatan yang masih ada dia bisa lakukan dan bisa didesain itu. Janganlah melakukan pembohongan publik, ini polanya kan ada," tambahnya.

Untuk itu, ia mengimbau kepada pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Sebab, masalah itu bukan masalah sepele. Dia menegaskan, harus dicari siapa dalang di balik penyerangan tersebut. "Agar tidak terjadi kehilangan rasa aman dan juga kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum," tambahnya.

Seperti diketahui, terjadi beberapa rentetan penyerangan dan penganiayaan terhadap tokoh ulama yang terkonfirmasi akhir-akhir ini. Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1).

Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan.

Kemudian ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.

Dan pada Ahad (11/2) ini, pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang.

Bukan hanya tokoh agama, tempat ibadah pun mengalami teror. Sebuah klenteng di Karawang, pada Ahad (11/2) mengalami ancaman bom. Kemudian, sebuah masjid di Tuban, mengalami kerusakan kaca pada Selasa (13/2) dini hari.

Yang terakhir, percobaan penyerangan terjadi terhadap KH Hakam Mubarok, yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur terjadi Ahad (18/2). Menurut informasi yang Republika.co.id dapatkan dari anggota Majelis Tarjih Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kairo, Wahyudi Abdurrahim, kejadian berlangsung pada saat menjelang shalat Zuhur di Masjid Al-Manar.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES