Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Pengamat: Ahok Jadi Aktor Utama Keresahan Sosial

Rabu 01 Feb 2017 21:48 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ilham

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Foto: Antara/Muhammad Adimaja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai publik hari ini betul-betul sangat prihatin, bahkan marah terhadap sikap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat di bangku pesakitan. Ahok terlihat membuang nilai keadaban dalam interaksi sosial.

"Ketidakberadaban verbal dan nonverbal Ahok melahirkan asumsi Ahok jadi pasakitan di pengadilan saja masih dengan entengnya mendiskriditkan ulama bahkan cenderung melecehkan dan intimidatif bernafsu mengkriminalisasikan, lantas bagaimana negeri ini jika penguasa seperti itu?" ujar Harits kepada Republika.co.id, Rabu (1/2).

Menurutnya, Ahok telah menjadi aktor utama lahirnya keresahan sosial, disharmonisasi kehidupan sosial, kegaduhan politik, dan potensi memicu konflik karena SARA. Harits berharap, siapapun kekuatan yang bermain di belakang Ahok semoga masih mampu melihat fenomena kejumawaan Ahok dengan nalar dan hati yang sehat. Negeri ini jangan sampai masuk ke jurang problematika yang lebih komplek.

Soal substansi tuduhan terhadap KH Ma'ruf Amin yang notabene sebagai pimpinan MUI dan ormas NU yang didasarkan kepada data intelijen itu tindakan sangat politis. Ahok justru mempolitisir kasus penistaan yang ia lakukan dengan pilkada DKI.

Harits menilai, Ahok seperti menggali kuburnya sendiri lebih dalam. Jika keadilan masih hidup di NKRI, tindakan Ahok sangat bisa diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Sebab, telah memfitnah atau sebab aktifitas penyadapan ilegal.

"Andaikan benar ada bukti rekaman percakapan antara Pak SBY dengan Pak KH MA, maka ini menjadi indikasi kuat kekuasaan ikut bermain dalam kasus Ahok melalui institusi intelijen yang ada. Tentu ini penyimpangan serius, lembaga intelijen telah mengabdi kepada kekuasaan dan kepentingan opuntunir," katanya.

Tapi, kata dia, sepertinya Ahok akan menjilat ludahnya sendiri atau berkelit setelah menyadari ia menggali kubur lebih dalam untuk dirinya dan pihak yang backup di belakangnya.




BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA