Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Cerita Taufik Ismail Ikuti Pertukaran Pelajar ke Amerika

Selasa 09 Feb 2016 17:51 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ilham

Taufik Ismail

Taufik Ismail

Foto: ROL/Sadly Rachman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Taufik Ismail merupakan angkatan pertama yang merasakan program pertukaran pelajar American Field Service (AFS) di 1956. Rasa minder pernah dirasakan Taufik saat mencoba mengikuti ujian seleksi ini.

“Karena yang ikut pasti banyak dan dari kota-kota besar. Sementara, saya hanya berasal dari kota kecil,” kata Taufik saat Konferensi Pers 60 Tahun AFS Intercultural Programs di Indonesia dan 31 Tahun Yayasan Bina Antarbudaya di Kuningan, Jakarta, Selasa (9/2). Saat itu, sastarawan Indonesia ini bersekolah di salah satu SMA Pekalongan.

Motivasi Taufik untuk mengikuti program AFS juga sangat sederhana. Dia hanya ingin pergi ke luar negeri. Berpergian ke luar negeri pada masa 1956 merupakan sesuatu yang luar biasa, apalagi dia bertempat tinggal di kota kecil, Pekalongan.

Meski sempat tidak percaya diri, pria kelahiran Padang ini akhirnya diterima dengan beberapa teman lainnya. Mereka mulai melakukan perjalanan dengan kapal pesiar dari Tanjug Priok hingga Pelabuhan di New York, Amerika Selatan.

Karena jauh dan lamanya waktu yang akan dilalui, orang tua Taufik memberikan bekal yang cukup banyak. “Saya dibekali makanan sekeranjang yang banyaknya sama seperti satu koper,” kata Taufik. Saking banyak dan besarnya, Taufik pun sempat diledeki oleh teman-temannya. “Kamu mau pergi haji, Fik?” kenang Taufik.

Perjalanan itu merupakan momen yang tidak terlupakan bagi Taufik. Di samping jauh dari orang tua, dia juga bisa menikmati pengalaman berharga selama perjalanan. Begitu banyak keindahan lautan dan negara yang telah dilalui tanpa mengalami mabuk laut.

Selama beberapa waktu, Taufik akhirnya tiba di New York. Dia ditempatkan di salah satu keluarga yang berada di Michigan, Amerika Serikat. ‘Orang tua’ Taufik ini merupakan keturunan Jerman dan pengusaha tekstil di AS. Karena profesi mereka, terkadang Taufik menjaga toko tekstil orang tuanya itu selama setahun di negeri ‘Paman Sam’ tersebut.

Selain bahasa Inggris yang semakin disempurnakan, Taufik juga mendapat pembelajaran bahasa baru, yakni bahasa Jerman. Taufik selalu mendapatkan pelajaran baru dari pengalaman berharganya ini. “Terjalin persahabatan dan memahami budaya satu sama lain,” katanya.

Menurut Taufik, kegiatan yang dijalaninya merupakan bibit akan tumbuhnya ‘pohon perdamaian’. Kegiatan ini juga mampu mengurangi sikap intoleransi maupun radikalisme. “Kalau yang ngalamin program ini banyak, bayangkan ketika mereka nanti sudah berprofesi! Perdamaian itu pasti tertanam,” katanya.

Seperti diketahui, program AFS tidak hanya mencanangkan program belajar di sekolah luar negeri selama setahun. Para peserta juga ditempatkan di salah satu keluarga yang telah bersedia menjadi host family.

Melalui penempatan ini, para peserta akan mencoba mempelajari dan memahami budaya mereka yang jelas berbeda. Mereka juga sudah diajarkan untuk bisa membedakan mana yang boleh dicontoh atau tidaknya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES