Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Masuk Daftar Perusahaan Pembakar Hutan, Ini Sikap April Grup

Kamis 01 Okt 2015 17:26 WIB

Rep: Sonia Fitri/ Red: Ilham

Foto udara kebakaran hutan di Kabupaten Lahat diambil dari Helikopter MI8 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lahat, Sumatera Selatan, Jumat (18/9).

Foto udara kebakaran hutan di Kabupaten Lahat diambil dari Helikopter MI8 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lahat, Sumatera Selatan, Jumat (18/9).

Foto: Antara/Nova Wahyudi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak perusahaan produsen bubur kayu dan kertas terintegrasi Asia Pacific Resources International Ltd (APRIL Grup) masuk daftar perusahaan pembakar hutan versi LSM Walhi.

Menanggapi hal tersebut, APRIL Group yang merupakan induk usaha PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) mendukung langkah pemerintah untuk menegakkan aturan hukum bagi industri yang dengan sengaja melakukan pembakaran lahan untuk membuka konsesinya.

"Jika terbukti ada pembakaran lahan, kami akan mengambil tindakan yang diperlukan dan meminta para mitra suplai untuk memperbaikinya, atau mengakhiri hubungan bisnis dengan kami," kata Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Tony Wenas dalam keterangan tertulis yang dierima Republika.co.id pada Kamis (1/10).

Pantauannya, hingga pekan lalu, ia mengklaim tidak satu pun konsesi RAPP yang terbakar. Ia mengungkapkan, industri seharusnya menjadi bagian penting membantu serta memberikan solusi preventif dan represif dalam penanganan kasus kebakaran hutan di Indonesia.

APRIL Group sebagai induk usaha PT RAPP akan bertindak tegas terhadap pemasok yang terbukti melakuan pembakaran lahan. Pihaknya menerapkan kebijakan ketat baik secara internal maupun kepada mitra suplai untuk membakar lahan.

Sejumlah program terkait penanganan kebakaran yang dikembangkan RAPP, lanjut dia, sejauh ini telah diterapkan bahkan dapat menjadi model dalam mengatasi persoalan kebakaran. Misalnya Program Desa Bebas Api atau Free Fire Village (FFV) dan pelatihan bagi masyarakat melalui program Masyarakat Peduli Api (MPA).

Itu terbukti efektif sebagai tindakan awal pencegahan. Program desa bebas api diterapkan pada sembilan desa yang berlokasi di wilayah operasional perusahaan.

Keterlibatan desa dalam penanganan kebakaran hutan penting digerakkan. Bukan hanya ketika musim kemarau tapi harus berlanjut sepanjang tahun. Oleh perusahaan, lanjut dia, masyarakat desa juga dibekali dengan berbagai program seperti crew leader dan agrikultur untuk membantu masyarakat dalam membuka lahan tanpa membakar. Dilakukan pula program sosialisasi dan program pemantauan kualitas udara.

"Kami mengharapkan lebih banyak lagi desa bebas api tercipta sehingga membawa dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat," tuturnya. Ke depan, RAPP akan  melibatkan lebih banyak lagi komponen masyarakat untuk bertanggungjawab menjaga wilayahnya masing-masing.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES