Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Insiden Tolikora Disebut Murni karena Kebencian

Ahad 19 Juli 2015 21:08 WIB

Rep: C13/ Red: Julkifli Marbun

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Insiden yang menyebabkan sebuah Masjid dan sejumlah kios terbakar di Kabupaten Tolikora, Papua diniai bukan karena pengeras suara. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (Jubir HTI)  Ismail Yusanto mengaku tidak setuju jika kerusuhan itu dikarenakan pengeras suara (speaker).

"Insiden itu bukan karena speaker," ungkap Ismail saat dihubungi Republika, Ahad (19/7). Menurutnya, peristiwa ini murni didorong rasa kebencian masyarakat Papua terhadap umat Islam di Tolikora. Oleh sebab itu, Ismai menegaskan HTI sangat mengutuk keras kejadian yang menggemparkan masyarkat tersebut.

Seperti diketahui, sebuah Masjid dan sejumlah kios terbakar saat pelaksanaan shalat Idul Fitri, Jumat (17/7) di Kabupaten Tolikora, Papua. Penyebab insiden ini karena penggunaan speaker saat pelaksanaan shalat. Suara takbir dari speaker umat Islam dinilai telah memancing reaksi umat Kristiani yang saat itu akan menggelar kegiatan keagamaan.

Ismail mengungkapkan, rasa kebencian terhadap umat Islam di sana terbukti dengan surat pelarangan shalat Ied yang dikeluarkan Gereja Injil di Indonesia (GDII) tertanggal 11 Juli 2015. Menurutnya, surat itu jelas ditunjukkan kepada umat Islam yang akan merayakan shalat ied pada 17 Juli. Bahkan, kata dia, permintaan itu juga telah dikirim kepada DPRD, Kapolda dan Pemda setempat.

Menurut Ismail, sikap-sikap kebencian terhadap umat Islam sudah sering terjadi. Bahkan, lanjut dia, sebelum insiden yang sangat disayangkan pada hari kemenangan umat Islam tersebut.

Berdasarkan laporan pihaknya di Tolikora, Ismail mengungkapkan, umat Islam di sana memang selalu mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari masyarakat setempat. Ia menerangkan, umat Islam telah dilarang membangun kubah di atas Masjidnya. Kemudian, ujar dia, mereka melarang umat Islam menggunakan plang nama Masjid.

Selain itu, Ismail juga menyatakan, umat Islam juga telah menuruti permintaan masyarakat setempat untuk tidak pernah menggunakan speaker pada pelaksanaan ibadah. Ia juga menegaskan, saat peristiwa itu, umat Islam tidak memakai speaker sama sekali. "Kami menerima laporan bahwa umat Islam tidak menggunakan speaker saat takbir," terangnya.

Walaupun memakai speaker, Ismail mengungkapkan, masyarakat setempat juga diharapkan untuk toleransi. Menurutnya, pemakaian speaker saat takbir hanya berlangsung satu jam. "Kalaupun pakai, apa salahnya masyarakat setempat untuk memberikan kesempatan umat Islam untuk bertakbir dalam satu jam saja," tambahnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA