Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Politisi Ini Bela Florence Sihombing

Sabtu 30 Aug 2014 07:15 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Indra Piliang

Indra Piliang

Foto: Yogi Ardhi

REPUBLIKA.CO.ID, Mahasiswa S2 di Universitas Gajah Mada (UGM), Florence Sihombing menjadi perhatian netizen di media sosial karena aksi memaki warga Jogja terkait dengan antrean panjang saat akan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Stasium Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Netizen di media sosial terutama Twitter pun bereaksi, ada yang pro dan kontra. Tentu saja banyak yang kontra seperti mem-bully Florence di Twitter hingga aksi mengusir Florence dari UGM dan juga dari Jogja. Namun politisi ini membela Florence.

"Sy (saya) bersedia jd saksi ahli yg meringankan utk Florence," kata Indra J Piliang dalam akun Twitter pribadinya, @IndraJPiliang, Jumat (29/8) lalu.

Indra menilai Florence terlihat cerdas dan kritis. Menurutnya yang terpenting dari komentarnya tentang monopoli Pertamina yang mengakibatkan kemiskinan di daerah-daerah. Ia berpendapat ada dua cara membaca tanggapan Florence dan sebagian besar yang mem-bully Florence membacanya secara diakronis, bukan sinkronis.

Jika dibaca secara sinkronis, lanjutnya, Florence merupakan mahasiswa cerdas dengan nalar yang jalan terkait sengkarut Pertamina. Monopoli Pertamina yang dipersoalkan Florence itu tepat dan memang ada SPBU dari perusahaan-perusahaan asing. Tapi asing itu kan cari untung.

"Nah, Florence menukik tajam ke monopoli Pertamina yg gagal ciptakan kesejahteraan, akibat minimnya pelayanan dan pemerataan SPBU," ujarnya.

Sedangkan menurutnya Jogja hanya konteks dari teks yang ditulis Florence soal monopoli Pertamina. Ia menggunakan bahasa 'telanjang' yaitu kemiskinan. Ia membaca bully-an terhadap Florence, mayoritas isinya adalah teks yang dia ditulis dan dibaca (ditafsirkan) secara diakronis.

Persoalan di sosial media, tambahnya, adalah antara penulis dan pembaca berinteraksi secara tekstual dengan nalar masing-masing. Akibat pembacaan secara diakronis atas teks Florence memunculkan resonansi teks dan kemudian diberi stigma.

"Kalau Florence diadili, sy kira teks2 yg memunculkan resonansi atas teks aslinya (pelaku bully terhadap Florence) jg layak diadili. Lbh ganas dari teks Florence sendiri," tegas politisi yang dipecat Partai Golkar karena mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014 ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA