Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Anak Bunuh Diri, Potret Kekerasan Dalam Pendidikan

Sabtu 03 May 2014 17:11 WIB

Rep: N-C75/ Red: Julkifli Marbun

Bunuh Diri (ilustrasi)

Bunuh Diri (ilustrasi)

Foto: Impala 74

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti mengatakan siswa bunuh diri akibat tekanan Ujian Nasional (UN) merupakan potret kekerasan dalam pendidikan. Sejak tahun 2004-2007, korban bunuh diri berjumlah 16 orang akibat kebijakan UN.

"Itu merupakan potret kekerasan dalam pendidikan," ujar Retno Listyarti kepada Republika, Sabtu (3/5).

Ia menuturkan seiring waktu, sudah sulit dihitung korban anak yang memilih mengakhiri hidupnya karena kebijakan semacam itu (UN). Ini bentuk kekerasan sistemik karena pemerintah memaksakan kebijakan.

Menurutnya, akibat kebijakan UN, membuat anak mengalami stres, seakan penyiksaan, belajar tidak menyenangkan. Sehingga, bagi seorang anak lebih memilih mengakhiri hidupnya.

Retno mengatakan selama dua periode kepemimpinan SBY, tidak meninggalkan warisan yang berharga di sektor pendidikan. Melainkan, hanya mampu memberikan dua Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dan dua kali pergantian kurikulum, serta segudang kebijakan pendidikan yang hanya berorientasi kepada proyek.

Sementara itu, ia mengatakan ada banyak anak-anak yang terus menorehkan prestasi di dunia internasional. Namun, prestasi tersebut bukan menjadi tolak ukur keberhasilan dari kualitas sistem pendidikan.

Ia pun menaruh harapan kepada pemerintahan ke depan, dengan mengembalikan UN sebagai alat pemetaan berdasarkan UU tahun 20 tahun 2003. UN hanya dijadikan pemetaan seperti andaikan nilai UN B Inggris jelek maka bisa diperiksa mengapa bisa terjadi demikian. Semisal karena tidak mempunyai lab B. Inggris.

Menurutnya, harus ada political will dari pemerintahan yg mendatang serta sungguh-sungguh mengelola pendidikan. Sehingga dapat membawa bangsa ini ke peradaban yg lebih tinggi dan manusiawi.

Ia menjelaskan mengapa sampai saat ini tidak ada solusi karena pemerintah tidak mau mendengar. Padahal, penolakan UN semakin menguat, termasuk anak SMA yang mulai menolak dengan menyampaikan protes. "Ini membahayakan bangsa. Anak bangsa kehilangan kesempatan berkembang dengan baik," tegasnya.

Sebelumnya Republika memberitakan, satu calon peserta ujian nasional Tahun 2014 tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat di Kabupaten Bengkayang batal ikut serta karena tewas gantung diri.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA