Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Tujuh Pernyataan Antikorupsi Akil Mochtar, Dari Potong Jari Hingga Potong Leher

Sabtu 05 Oct 2013 22:35 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Akil Mochtar ditahan KPK.

Akil Mochtar ditahan KPK.

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, Akil memang kerap melontarkan pernyataan mengenai independensi. Pada sebuah kesempatan dia menyatakan, “Selama lima tahun menjadi hakim di sini, saya bisa menjaga independensi. Kalau saya bukan orang independen, kalau saya orang yang bisa disetir atau diintervensi oleh kekuatan-kekuatan lain, tidak mungkin tujuh orang (hakim) itu pilih saya (menjadi ketua MK). Memangnya mereka bodoh. Mereka hakim-hakim yang berpengalaman, beberapa guru besar malah.” 

Berikut tujuh pernyataan Akil soal perang terhadap korupsi.

1.Pada 5 Juni 2009

Akil melakukan sidang disertasi di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Disertasi Akil mengenai korupsi dengan judul 'Penerapan Sistem Pembuktian Terbalik dalam Upaya Berantas Korupsi'.

2.Pada 25 Oktober 2010

Akil menyatakan siap dipilih menjadi jaksa agung. “Kalau ditanya saya dipilih tentu siap, tapi kalau minta-minta jadi jaksa agung ojo lah, malu dong,” ujar Akil. 

3.Pada 10 Desember 2010

Akil marah saat disentil Refly Harun, pakar hukum tata negara yang menulis kolom adanya jual beli putusan di Mahkamah Konstitusi di sebuah media. Saat itu, Akil menyatakan, “Saya atau dia yang masuk penjara”.

4.Pada 12 Maret 2012

Akil mengusulkan hukuman untuk koruptor. “Ini ide saya, dibanding dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup." 

5.Pada 4 Agustus 2013

Akil melalui akun twitternya (@akilmochtar) menegaskan mengenai independensi hakim. “Independensi hakim adalah harga mati. Walau itu harus ada risiko.” Kicauan lainnya, “Independen juga bagi pencari keadilan dalam mengakses keadilan tanpa intervensi apapun.” 

6.Pada 13 Agustus 2013

Akil melalui akun twitternya mengomentari penangkapan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini. “Quo Vadis SKK Migas? Menyedihkan sekaligus mempermalukan bangsa.”

7.Pada 13 September 2013 

Akil mengatakan, “Kalau saya berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan kewajiban, saya akan potong leher saya sendiri.” Akil melontarkan pernyataan itu ketika dituduh terlibat dalam kasus Pemilukada Banyuasin, Sumatra Selatan

Sumber : Harian Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA