Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Hukum Indonesia Kehilangan Nyawa

Kamis 21 Apr 2011 04:47 WIB

Red: Agung Vazza

Mahfud MD

Mahfud MD

Foto: Antara/Widodo S Jusuf

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, menyatakan hukum Indonesia telah kehilangan nyawa, sehingga mudah dimasuki kepentingan sesaat yang bertentangan dengan hukum itu sendiri.

Statemen ini disampaikan Ketua MK, saat memberikan kuliah umum dalam rangka memperingati 60 tahun Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumbar bertema "Peran Mahkamah Konstitusi Dalam Mewujudkan Cita Hukum Nasional" di Padang, Rabu (20/4).

Mahfud mengatakan, sebagai cita hukum, Pancasila ibarat nyawa yang tidak hanya memberikan panduan kemana hukum dan penegakannya akan dibawa. Tapi sekaligus nilai axiologis dalam menentukan hukum apa yang akan dibentuk dan bagaimana menjalankannya.

Sayangnya, ia menilai, pembentukan dan penegakan hukum saat ini telah meminggirkan Pancasila. Bahkan, ia menyatakan, perdebatan akademis dan proses pendidikan tinggi hukum mungkin juga semakin jarang mendalami cita hukum dan studi-studi filsafat hukum. 

Karena itu, kata Mahfud, gagasan revitalisasi Pancasila sebagai cita hukum menjadi mendesak untuk tidak hanya diwacanakan, malainkan harus dijalankan.Tujuan dari gagasan revitalisasi, katanya, untuk mengembalikan Pancasila sebagai cita hukum, mulai dari pembentukkan hukum hingga pelaksanaan dan penegakannya.

Menurut dia, revitalisasi sangat perlu dilakukan untuk menjadikan Pancasila sebagai paradigma dalam berhukum sehingga dapat memperkecil jarak antara das sollen dan das sein, sekaligus memastikan nilai-nilai Pancasila senantiasa bersemayam dalam praktik hukum.

Ia menilai, melakukan revitalisasi tentu bukan hal yang mudah,  tapi bukan berarti sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

Jadi proses revitalisasi tidak dapat dilakukan dengan sekadar sistem pendidikan aparat penegak hukum yang menekankan pada aspek pengetahuan. Tetapi, ia menilai, harus terinternalisasi serta menyatu dengan sistem dan kultur hukum. 

Makanya, menurut Mahfud, dalam proses ini, diperlukan peran semuan pihak, terutama pendidikan tinggi hukum sebagai kawag candradimuka pemikiran-pemikiran hukum serta institusi yang bertanggungjawab atas kualitas dan integritas para ahli dan praktisi hukum Indonesia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA