Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Republika-Kementan Kerja Sama Beri Pelatihan Jurnalistik

Kamis 22 Agu 2019 16:22 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Yusuf Assidiq

Redaktur Pelaksana Republika, Subroto, sedang menyampaikan materi pada pelatihan jurnalistik bertema 'Agri Journalistic Camp 2019' di kantor Balai Besar Karantina Pertanian, Sidoarjo.

Redaktur Pelaksana Republika, Subroto, sedang menyampaikan materi pada pelatihan jurnalistik bertema 'Agri Journalistic Camp 2019' di kantor Balai Besar Karantina Pertanian, Sidoarjo.

Foto: Dadang Kurnia.
Pakem-pakem jurnalistik perlu diterapkan bagian humas dalam menulis siaran pers.

REPUBLIKA.CO.ID, SIDOARJO -- Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Republika menggelar pelatihan jurnalistik bertema 'Agri Journalistic Camp 2019' di kantor Balai Besar Karantina Pertanian, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (22/8). Pelatihan diberikan kepada bagian humas dari berbagai divisi di Kementerian Pertanian. Pelatihan di hari pertama diisi Redaktur Pelaksana Republika, Subroto, dan Kabiro Foto Republika, Edwin Dwi Putranto.

Materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut di antaranya teknik menulis berita dan membuat press rilis, yang diisi dengan teori dan praktik. Materi ini dipaparkan oleh Redaktur Pelaksana Republika Subroto. Materi lain yang diberikan pada kegiatan tersebut adalah terkait foto jurnalistik, yang disampaikan Kabiro Foto Republika, Edwin Dwi Putranto. Materi ini juga diisi teori dan praktik.

Salah seorang peserta, Aminudin Fajar berpendapat, pelatihan terkait penulisan jurnalistik tersebut sangat penting guna menunjang pekerjaan sehari-harinya sebagai humas dan pengelola web. Menurut Fajar, pakem-pakem penulisan jurnalistik sangat berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, di mana mereka juga memiliki tanggung jawab untuk membuat siaran pers, yang kemudian disebarluaskan.

"Sangat penting untuk belajar menulis jurnalistik seperti ini. Karena sering kali untuk kegiatan-kegiatan tertentu di institusi kan kita disuruh membuat materi siaran pers. Jadi kita harus tahu pakem-pakem jurnalistik," kata Fajar di sela acara.

Menurut Fajar, pakem-pakem jurnalistik perlu diterapkan bagian humas dalam menulis siaran pers, agar informasi yang ingin disampaikan mudah dimengerti masyarakat. Artinya, kata dia, mulai pemilihan diksi, hingga cara penulisannya dilakukan dengan menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik.

"Agar berita-berita yang kita tulis di siaran pers itu mudah dimengerti masyarakat. Karena kan siaran pers yang kita buat itu disebar ke media massa untuk diberitakan ke masyarakat luas. Artinya kita harus menulis dengan bahasa populer di media," ujar Fajar.

Peserta lainnya, Riswan juga mengamini pentingnya mempelajari cara penulisan jurnalistik untuk diaplikasikan dalam menulis press rilis di lembaga tempat dia bekerja. Pria yang bekerja di bagian informasi pada Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian tersebut mangatakan, informasi yang disebarluaskan melalui press rilis harus mudah dimengerti, karena nantinya disebarkan kepada masyarakat luas.

"Kita juga punya tanggungan untuk menulis siaran pers yang itu nanti akan disebarluaskan kepada masyarakat. Artinya harus bisa menulis siaran pers dengan data sangat padat, jelas, dan mudah dimengerti. Intinya supaya masyarakat itu mengerti apa yang kita sampaikan," ujar Riswan.

Redaktur Pelaksana Republika Subroto dalam materinya memaparkan, agar siaran pers itu mudah dimuat dan disebarluaskan oleh media, maka harus memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, siaran pers yang ditulis harus penting, menarik, dan berdampak bagi masyarakat luas. Artinya, pihak humas dituntut pandai memilah informasi yang menarik dan penting untuk disebarluaskan.

"Ini penting buat lembaga kita, apa penting juga buat masyarakat penting? Karena itu mau dikirim ke media massa yang itu akan dikonsumsi masyarakat umum. Kalau untuk media internal saja oke lah," ujar Subroto.

Subroto juga memaparkan tips-tips untuk memudahkan penulisan siaran pers. Di antaranya harus terlibih dahulu menentukan sudut pandang atau angle. Sudut pandang yang diambil, kata dia, harus dipilih yang benar-benar menarik dan penting untuk masyarakat luas.

"Jangan diambil semua, jadi fokus ke informasi yang paling menarik dan penting tadi. Ini sangat penting karena menentukan berita itu akan dibaca atau tidak oleh pembaca," kata Subroto.

Subroto juga mengingatkan pentingnya pemilihan judul. Di mana, kata dia, judul yang dipilih harus betul-betul menggambarkan isi berita. Artinya, harus relevan antara judul dengan isi berita. Judul juga harus dibuat semenarik mungkin, karena memiliki fungsi untuk mengiklankan, sehingga orang akan tertarik untuk membacanya.

Subroto kemudian menekankan pentingnya lead, atau alinea pertama pada berita yang ditulis. Lead ini, kata dia, memiliki fungsi mengemukakan bagian terpenting dari berita. Maka dari itu, lead tersebut harus berisi informasi yang menarik perhatian, karena akan menentukan pembaca akan melanjutkan bacaannya atau tidak.

"Yang tidak kalah penting harus selalu menekankan saya menulis bukan buat saya tapi buat media massa. Nanti itu akan dibaca masyarakat luas. Makanya selalu gunakan bahasa yang mudah dipahami. Kalau istilah asing cari kata sepadan atau penjelasannya," kata Subroto.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA