Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Halal Industrinya, Halal Keuangan Keluarganya

Selasa 21 May 2019 16:52 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Ketua, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia/ Founder, Sakinah Finance)

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Ketua, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia/ Founder, Sakinah Finance)

Foto: Dokumentasi Pribadi
Halal memiliki banyak pesan tentang kesehatan yang dapat menjadi solusi bagi siapapun

Di suatu ajang konferensi internasional, saya pernah ditanya apakah kata “halal” indentik dengan “kefanatikan”, karena kesannya “alim banget dah”, dengan cepat saya menjawab, perintah Allah SWT kepada seluruh umat manusia (bukan hanya Muslim tapi juga non-Muslim) adalah untuk memakan apa pun di muka bumi ini yang jelas halal dan tayib (bukan hanya halal tapi tayib atau baik), jadi kalau hanya mengatakan “halal”, belum apa-apanya, karena yang diserukan adalah “halal dan baik”.

Industri halal semakin dikembangkan yang tentu hal ini petanda baik bukan hanya bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim tapi bagi siapa saja. Halal memiliki banyak pesan tentang kesehatan yang dapat menjadi solusi bagi siapa pun. Halal juga menjunjung tinggi hak asasi hewan dan seputar isu tentang etika.

Pentingnya halal dalam hal apa yang didapat, dimiliki, dimakan, dibelanjakan dan dipakai semakin dirasakan manfaatnya. Ternyata halal bukan hanya sekedar perintah tapi suatu jalan menuju kehidupan yang lebih baik dan tenang (sakinah).

Kehidupan sakinah ini yang pada akhirnya didambakan, yang tidak didapat karena banyaknya uang, tingginya jabatan, kegemerlapan hidup dan ketenaran. Maka dari itu mari kita pelajari lagi apa yang dimaksud dengan industri halal yang sekarang sedang banyak dibicarakan dan bagaimana kita dapat berpartisipasi di dalamnya.

Jika mendefinisikan dari asal kata halal dalam Islam artinya boleh. Artinya apa-apa saja yang dibolehkan secara hukum Islam. Kemudian diadopsi menjadi bagian satu industri besar yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum. Ingat, bukan hanya bagi Muslim saja.

Karena bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum setidaknya ada 10 sektor dalam industri halal. Kesepuluh sektor industri tersebut antara lain makanan, pariwisata, pakaian, kosmetik, pendidikan, finansial, farmasi, media, rekreasional dan seni budaya. Saat ini, dari 10 sektor tersebut dipilih 6 sektor utama, yaitu makanan, keuangan, travel, pakaian, media dan rekreasi juga farmasi dan kosmetik. Ingin tahu sejauh mana kontribusi Indonesia pada ke enam sektor tersebut?

Enam Sektor Industri Halal

1. Makanan Halal

Makanan merupakan hal sudah lama dikenal dan dzahir harus halal. Ciri dari kehalalan suatu produk biasanya memiliki label halal setelah melakukan sertifikasi oleh BPOM dan MUI. Kontribusi Indonesia pada industri makanan halal didunia termasuk dalam top 15 countries.

Berdasarkan data GIEI Thompson Ruteurs skor GIE halal food Indonesia masuk ke ranking 47.82. Skor tersebut menunjukan penilaian angka yang semakin tinggi berarti memberikan kontribusi yang semakin banyak. Kemudian, dari tingkat kesadaran masyarakat terjadi peningkatan yang cukup signifikan di mana pada indeks tahun 2017 kesadaran konsumsi makanan halal berada pada tingkat 15.00 sementara pada tahun 2018 mencapai 37.00.

2. Pakaian Muslim

Banyak orang mengatakan kota yang sudah dikenal dengan kota mode adalah paris. Rupanya Indonesia bercita-cita untuk menjadi pusat pakaian Muslim dunia. Terlepas dari rencana menjadikan Bandung atau Jakarta sebagai kota icon pakaian Muslim nantinya. Indonesia sebagai Top 15 Countries telah memperoleh skor 34.26 pada pakaian sopan.

3. Pariwisata Halal

Sejak tahun 2016 pemerintah Indonesia sudah membuka banyak kesempatan dan dukungan untuk membuka potensi dari industri ini. Tidak heran mengapa sangat gencar mempromosikan karena betapa berlimpahnya destinasi dan lokasi-lokasi pariwisata yang potensial di Indonesia.

Di antara industri yang lain pariwisata halal menerima dukungan tertinggi dalam hal dukungan pemerintah. Dan ini berhasil karena angka indeks kesadaran berpariwisata halal sejak tahun 2017 hingga 2018 meningkat sebanyak 69%. Kontribusi pariwisata halal pada skor industri halal global Indonesia paling tinggi diantara sektor lainnya, yaitu 64.58.

4. Kosmetika Halal dan Obat-obatan Halal

Tren beauty bukan hanya menyebar di Indonesia. Jika kita melihat banyak dari informasi social media setidaknya mendifirensiasikan beauty kit atau standar ke Western atau Asian. Hal ini telah membentuk trend dan berdampak baik karena industri produk farmasi dan kosmetik halal. Tapi tingkat kesadaran penggunaan kosmetik dan produk farmasi halal masih rendah.

Bisa jadi dikarenakan pemain dari produk-produk kosmetik belum mengindahkan potensi kehalalan produk untuk memenangkan pasar. Skor dari industri farmasi dan kosmetik halal Indonesia masuk di angka 44.39 lebih tinggi dari indeks global yaitu 31.80.

6. Media dan Rekreasi Halal

Di antara semua industri halal di Indonesia, media dan rekreasi adalah industri yang paling mengkhawatirkan index halalnya. Hal ini mengindikasikan masih banyak konten dari berbagai media yang belum sesuai dengan ketentuan Islam. Tidak heran jika kontribusi dari industri media dan rekreasi msih memiliki skor yang rendah yaitu 16.03. Jika dibandingkan dengan industri lainnya yang sudah mencapai angka 30.00-60.00.

7. Keuangan Syariah

Jika membuat sebuah siklus untuk merangkai industri halal di Indonesia, maka industri keuangan bisa menjadi “meeting point” untuk mengembangkan industri yang lain. Sejak dikampanyekannya berhijrah dari instrumen-instrumen keuangan konvensional, Indonesia terus mengalami peningkatan dari sisi industri keuangan syariah. Jika dilihat, industri keuangan adalah kontributor runner up dari ke 6 sektor utama dalam menyumbang industri halal secara global. Skor yang diraih Indonesia adalah 46.45 pada sektor ini.

Seruan Alquran

Menyambung pembahasan mengenai pesan dari QS Al-Baqarah (2): 168 bahwa bagi yang tidak mematuhi seruan untuk memakan  yang “halal dan baik”, sebenarnya sengaja mengikuti ajakan setan yang merupakan musuh manusia: “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Di ayat yang lain, Allah SWT juga memerintahkan untuk memakan rezeki/pendapatan yang thayyib, atau halal dan thayyib, lihat QS Al-Baqarah (2): 172; Al-Maidah (4): 88; QS Al-Anfal (8): 69; An-Nahl (16): 114. Pengeluaranpun harus dipastikan dari yang baik misalnya di QS Al-Baqarah (2): 267 yang menyerukan kita untuk berinfaq dari usaha yang baik-baik.

Ayo Berpartisipasi Aktif

Kita sadari bahwa menjadikan Indonesia tuan rumah industri halal perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga – keluarga Indonesia, karena konsumsi datangnya dari rumah tangga. Para keluarga perlu belajar tentang pentingnya halal, mengapa harus halal dan bagaimana memastikan kehalalan apa yang didapat, dikonsumsi dan dibelanjakan. Maka dari itu kita semua perlu merangkai ekosistem halal yang tepat, berpartisipasi bukan hanya sebagai konsumen tapi juga sebagai produsen. Wallahu a'lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

TENTANG PENULIS

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc (Ketua, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia/

Founder, Sakinah Finance)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA