Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Emil Beri Santunan Keluarga KPPS Meninggal

Senin 22 Apr 2019 14:21 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Indira Rezkisari

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berserta istrinya Atalia Praratya melakukan pencoblosan Pemilu 2019, di TPS 32, Cigadung, Kota Bandung, Rabu (17/4).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berserta istrinya Atalia Praratya melakukan pencoblosan Pemilu 2019, di TPS 32, Cigadung, Kota Bandung, Rabu (17/4).

Foto: Republika/Edi Yusuf
12 orang anggota KPPS Jawa Barat meninggal, sebagian karena kelelahan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, prihatin dengan meninggalnya 12 orang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Ridwan Kamil berencana akan mengumpulkan semua keluarga KPPS tersebut.

"Orangnya (keluarganya) akan dikumpulkan. Ini mah rasa sayang saya, kasihan sedih saya. Saya undang keluarga termasuk TNI Polri yang meninggal dan bertugas di Jabar," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil kepada wartawan di Gedung Sate, Senin (22/4).

Saat ditanya apakah pemberian santunan akan diberikan dari uang pribadi, Emil mengatakan kemungkinan bantuan tersebut akan diberikan dari dana operasional dia sebagai gubernur. Namun, nilainya belum ditentukan.

"Kan gubernur ada dana operasional, ada BJB, sumber mah bisa dicari. Santunan dan penghargaan, nilainya bantuannya besok," katanya.

Selain memberikan bantuan dalam bentuk uang, menurut Emil, ia pun akan memberikan penghargaan. Tapi penyerahannya akan diberikan di waktu yang lebih afdol. "Kalau pemberian santunan hanya untuk yang berpulang," katanya.

Menurut Sekda Provinsi Jabar Iwa Karniwa, Pemprov Jabar sudah membahas anggaran untuk pemberian santunan. Karena, saat ini anggaran untuk santunan tersebut belum dipersiapkan karena memang aturannya tak ada.

"Tapi ada beberapa solusi yang kita siapkan. Pak Gubernur sudah memberi keputusan untuk memberikan apresiasi kepada rekan kita pejuang demokrasi paling tidak membantu keluarga yang ditinggalkan," paparnya.

Mekanismenya, kata dia, sedang diproses karena mungkin ada cara lain. Saat ini, data KPPS yang meninggal yang diterima Pemprov Jabar ada 12 orang.

"Kalau TNI Polri itu kan aturannya ke pusat kita prioritaskan masyarakat. Penghargaan ada wacana pemberian itu di Graha Demokrasi, kita ada niat tulus," katanya.

KPU Jabar mencatat sampai 19 April 2019, terdapat 12 anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia saat bertugas menyelenggarakan Pemilu 2019 di beberapa daerah di Jabar.

Ketua KPU Jabar, Rifqi Ali Mubarok, anggota KPPS yang meninggal dunia tersebut, adalah Kabupaten Purwakarta, anggota KPPS yang meninggal dunia adalah Deden Damanhuri (46) yang bertugas di TPS 03, warga Kampung Sukalaksana, Desa Cipeudeuy, Kecamatan Bojong. Deden meninggal diduga karena mengalami pecah pembuluh darah.

Masih di Kabupaten Purwakarta, kata dia, KPPS lainnya yang meninggal dunia adalah Carman (45), warga Kampung Gardu, Desa Gardu, Kecamatan Kiarapedes, pun meninggal dunia diduga karena mengalami pelemahan tubuh. Kemudian, kata dia, di Kabupaten Bandung, Indra Lesmana (28), warga Kampung Sindangsari, Desa Banjaran Kulon, Kecamatan Banjaran, yang merupakan Ketua KPPS TPS 04 ini sempat mengeluh merasa mual dan sakit sebelum meninggal.

Di Kota Bekasi, kata dia, Ahmad Salahudin dari Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi arat, yang merupakan Ketua KPPS TPS 081 tertabrak truk. Di Kabupaten Kuningan, Nana Rismana, anggota KPPS TPS 04 asal Desa Dukuh Dalem, Kecamatan Ciawigebang, meninggal setelah mengaku kelelahan.

Di Kabupaten Tasikmalaya, H Jeje dari Desa Mandala Mekar, Kecamatan Jatiwaras, yang merupakan Ketua KPPS TPS 02, meninggal setelah kelelahan dan memiliki riwayat penyakit jantung. Supriyanto dari Desa Cidugalan, Kecamatan Cigalontang, yang merupakan Ketua KPPS TPS 11, meninggal setelah kelelahan.

Di Kabupaten Bogor, Jaenal (56), warga Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, yang merupakan anggota KPPS TPS 09 meninggal setelah kelelahan saat mengambil logistik di gudang. Di Kabupaten Karawang, anggota KPPS TPS 4, Yaya Suhaya, warga Desa Cilewo, Kecamatan Telagasari, meninggal setelah mengaku kelelahan.

Di Kota Sukabumi, anggota KPPS TPS 10, Tatang Sopandi (48), warga Dwikora, Kelurahan Warudoyong, Kecamatan Warudoyong, meninggal setelah mengalami demam. Sebelumnya, Tatang aktif bertugas di gudang logistik.

Kemudian, kata dia, di Kabupaten Sukabumi, anggota KPPS TPS 18 Idris Hadi (64), warga Kampung Cipamutih, Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, meninggal setelah kelelahan menyelesaikan semua tahapan pemilihan. Masih di Kabupaten Sukabumi, Pengaman TPS Usman Suparman, warga Kampung Selaawi, Desa Warnasari, Kecamatan Sukabumi, meninggal dunia.

Menurut Rifqi, sebagian besar anggota KPPS yang meninggal dunia tersebut memiliki riwayat penyakit yang sudah diidap sejak lama. Beberapa lainnya mengalami kecelakaan dan kelelahan.

"Meninggalnya ada yang karena kelelahan, karena punya riwayat jantung. Kebanyakan capai dan lelah, ada yang kecelakaan," ujar Rifqi di Gedung Sate, akhir pekan lalu.

Meninggalnya para anggota KPPS ini, kata Rifqi, diduga terkait dengan dengan administrasi persiapan dan penyelenggaraan Pemilu yang memiliki durasi waktu yang lama. Berdasarkan hasil pantauannya di lapangan, rata-rata proses rekap suara selesai jam 05.00 pagi, bahkan ada yang berlanjut sampai jam 12.00.

"Karena belum selesai menyalin hasil formulir yang cukup banyak. Dan itu kan tanpa jeda, apalagi kemudian mereka kebanyakan mempersiapkan TPS di H-1 jadi, otomatis kan kelelahan," katanya.

Rifqi menjelaskan setidaknya terdapat enam set formulir yang harus diisi Ketua KPPS. Selain itu, lembarannya cukup besar dan memuat lima jenis pemilihan, lima jenis formulir C1, dengan banyak macamnya, sampai 30 lembar.



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA