Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Listrik di Kaki Gunung Cyclop Padam Sejak Banjir Bandang

Ahad 24 Mar 2019 18:37 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Dwi Murdaningsih

Kondisi tenda pengungsian di kampung Taruna, Hinekombe, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, Ahad (24/33). Letak permukiman ini berada di kaki Gunung Cyclop.

Kondisi tenda pengungsian di kampung Taruna, Hinekombe, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, Ahad (24/33). Letak permukiman ini berada di kaki Gunung Cyclop.

Foto: Republika/Umar Mukhtar
Warga mengandalkan jenjet untuk sehari-hari.

REPUBLIKA.CO.ID, SENTANI -- Listrik di Kampung Taruna di Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, masih padam sampai sekarang. Listrik di sana mulai padam sejak peristiwa banjir bandang pada Sabtu (16/3) malam lalu. Kampung tersebut berada tepat di kaki Gunung Cyclop.

"Listrik langsung mati sejak kejadian (banjir bandang) kemarin itu," kata Yuli Wonda, warga kampung Taruna saat ditemui Republika.co.id, Ahad (24/3).

Untuk sementara ini, warga menggunakan jenset untuk mengaliri listrik ke tenda. Tapi Yuli cemas jika nanti bahan bakar bensinnya habis. Sebab itu ia mengatakan perlu ada bensin solar agar jenset tetap berfungsi sehingga warga tetap teraliri listrik.

Selain listrik yang padam, Yuli juga mengeluhkan peralatan memasak yang minim. Saat ini warga Taruna menetap sementara di sebuah tenda berbahan terpal di sebelah gereja. Gereja ini tidak bisa digunakan lantaran tertimbun pasir.

Yuli meminta bantuan berupa kompor, minyak tanah, wajan, panci besar untuk memasak air. Selama ini, imbuhnya, warga Taruna memasak apa pun dengan kayu bakar. Ketika Republika datang pun kayu bakar sedang dinyalakan.

Untuk air bersih, warga kampung tersebut cukup kesulitan karena meski letaknya dekat dengan aliran sungai di kaki Gunung Cyclop. Pipa yang terpasang dari atas gunung ke permukiman banyak yang rusak tertimpa bebatuan.

Di sekeliling kampung ini, banyak bebatuan besar yang terlihat bekas berjatuhan. Padahal mulanya tidak ada bebatuan di permukiman warga tersebut. Bahkan lapangan voli tempat warga bermain tampak terpenuhi bebatuan.

"Kami butuh air galon, tikar, selimut, pipa (untuk mengaliri air), minyak tanah (untuk memasak), dan solar untuk jenset," kata Yuli.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA