Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Kasus DBD Bertambah, Sekolah dan Tempat Umum Dipantau

Jumat 22 Mar 2019 16:09 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi fogging

Ilustrasi fogging

Foto: Antara/Kahfie Kamaru
DKK Solo mengalakkan gerakan jumantik untuk mencegah DBD.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Solo bertambah menjadi 33 kasus dari 1 Januari sampai pekan ke-11 tahun 2019. Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo memantau sekolah dan tempat umum agar tidak menjadi sumber penularan DBD. 

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) DKK Solo, Efi S Pertiwi, mengatakan, 33 kasus DBD tersebut tersebar di 12 kelurahan dari total 54 kelurahan di Solo. "Paling tinggi kasus di kelurahan Mojosongo jumlah 11 kasus, tidak ada kematian," jelasnya saat ditemui wartawan di Kantor DKK Solo, Jumat (22/3). 

Baca Juga

Menurutnya, dari tahun ke tahun jumlah kasus DBD paling banyak terjadi di kelurahan Mojosongo dan Kadipiro. Namun, kasus DBD di Mojosongo tersebut tidak terjadi berturut-turut sehingga tidak ditemukan sumber penularannya.

Dalam mencegah agar kasus DBD tidak bertambah, DKK Solo menggalakkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik) serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, puskesmas akan melakukan penyelidikan epidemiologi (PE), terhadap semua kelurahan, tidak hanya yang kasusnya tinggi. Hal itu dinilai dapat mengantisipasi dengan optimalkan. Dia menilai selama ini gerakan satu rumah satu jumantik serta PSN sudah aktif. 

DKK juga telah melaksanakan pertemuan evaluasi gerakan satu rumah satu jumantik yang melibatkan tidal hanya kelurahan, tetapi juga Dinas Pendidikan serta kantor-kantor lain untuk bersama-sama melakukan gerakan satu rumah saru jumantik di tempat-tempat umum.

"Gerakan satu rumah satu jumantik ini juga diimplementasikan ke sekolah dan tempat-tempat umum karena indeksnya sudah di atas nol. Kan harusnya kalau tempat umum dan sekolah indeksnya nol," paparnya.

Indeks nol artinya tidak ada jentik di lokasi tersebut. Efi menyebut, selama ini indeks angka kepadatan nyamuk di sekolah dan kantor belum nol secara keseluruhan. Namun, ada beberapa lokasi yang sudah nol. Bahkan, secara umum indeks di sekolah mencapai angka 5. 

"Padahal di sekolah itu rawan penularan DBD. Tahun lalu sekolah indeksnya di bawah 5," imbuhnya. 

DKK juga melakukan tindakan khusus melalui larvasidasi selektif. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada April-Mei namun tahun ini dimajukan menjadi Maret-April. Sebab, tahun lalu jumlah kasus DBD di Solo hanya 24 kasus dalam satu tahun. Sedangkan tahun ini sampai Maret sudah 33 kasus.

Dalam kegiatan larvasidasi selektif tersebut, nantinya puskesmas dan kader akan datang ke rumah-rumah. Jika ditemukan rumah yang bak penampungan air tidak memungkinkan dikuras setiap pekan, maka akan diberikan larvasida atau salah satu yang dikenal yakni abate. Biasanya, rumah-rumah lansia yang tinggal sendiri sehingga untuk menguras bak penampungan harus menunggu anak-anaknya pulang. 

Di sisi lain, DKK mengimbau kepada masyarakat agar melakukan PSN secara rutin dan serempak. Efi mengimbau agar masyarakat membersihkan lingkungan, menghindari gigitan nyamuk dan meningkatkan daya tahan tubuh. 

"Tidak semua yang digigit nyamuk DBD akan terkena kalau daya tahan tubuh tinggi. Ditingkatkan dengan makanan bergizi, olahraga dan istirahat cukup. Hindari gigitan nyamuk dengan pakaian tertutup. Serta menanan tanaman-tanaman anti nyamuk seperti lavender, sereh, dan sebagainya," ujarnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA