Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Erupsi Gunung Karangetang, Pemkab Tetapkan Tanggap Darurat

Jumat 08 Feb 2019 10:16 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Gita Amanda

Petugas menunjukkan peta arah guguran vulkanik Gunung Karangetang di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) di Desa Salili, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Kamis (7/2/2019).

Petugas menunjukkan peta arah guguran vulkanik Gunung Karangetang di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) di Desa Salili, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Kamis (7/2/2019).

Foto: Antara/Adwit B Pramono
Penetapan masa darurat selama tujuh hari atas rekomendasi dari BNPB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Kabupaten Siau Tagulandang Biaoa, Sulawesi Utara (Sulut) telah menetapkan status tanggap darurat bencana erupsi Gunung Karangetang sejak semalam. Pemkab menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari.

“Penerapan dilakukan melihat situasi dan kondisi rill di lapangan serta rekomendasi dari PVMBG, kantor pengamat Gunung Karangetang dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Jumat (8/2).

Masa tanggap darurat ini sendiri berlaku sejak 6-12 Februari 2019 mendatang. Namun kata Sutopo, status ini dapat ditinjau kembali sesuai dengan kebutuhan. ”Sementara ini jarak 500 meter dari aliran lava telah disterilkan atas arahan BPBD,” jelasnya.

Sutopo melanjutkan, Pemerintah Daerah (Pemda) dan jajarannya telah melakukan rapat koordinasi dan mengirimkan bantuan kepada korban terdampak. Bantuan logistik dikirimkan ke Kampung Batubulan dan Kampung Beba.

Namun akses yang sulit menuju lokasi karena terputus terkena dampak erupsi membuat bantuan sedikit terkendala. Bantuan rencananya akan dikirimkan melalui jalur laut, namun ombak dan angin juga menjadi kendala.

“Pemda berniat membuka jalur baru dari Kampung Nameng ke Kampung Batubulan dengan mengerahkan bantuan masyarakat dan TNI Polri untuk membuka akses jalan,”  jelas Sutopo.

Jalan yang dibuka terangnya, sepanjang dua kilometer. Namun akses untuk mengirim bantuan hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki selama empat jam karena medan yang terjal dan sempit.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA