Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Hujan Abu Terdeteksi Usai Gunung Agung Erupsi

Ahad 30 Dec 2018 11:14 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Nidia Zuraya

Asap mengepul dari kawah Gunung Agung yang berstatus awas terlihat dari Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9).

Asap mengepul dari kawah Gunung Agung yang berstatus awas terlihat dari Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9).

Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Gunung Agung sempat erupsi selama tiga menit delapan detik

REPUBLIKA.CO.ID, KARANGASEM -- Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa melakukan koordinasi dengan kepala desa dan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana di lokasi yang memantau kondisi sekitar Gunung Agung. Ia membenarkan terjadi hujan abu di sejumlah titik usai erupsi terdeteksi Ahad (30/12) sekitar pukul 04.09 WITA.

"Ada sembilan lokasi terkena paparan hujan abu skala ringan dan sedang," katanya, Ahad (30/12).

Tiga titik terpapar hujan abu sedang, yaitu Banjar Dinas Uma Anyar Ababi bagian barat, Kota Amlapura, dan Banjar Dinas Butus di Desa Bhuana Giri. Enam lokasi terpapar hujan abu ringan, yaitu Desa Seraya Barat, Desa Seraya Tengah, Banjar Dinas Ujung Pesisi, Lingkungan Pesagi dan Pebukit, Desa Tenggalinggah, dan Kantor BPBD Karangasem.

Arimbawa menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepala Desa Ban dan Desa Dukuh yang menyatakan sampai saat ini tidak lagi terpantau ada asap dan hujan abu setelah erupsi pagi tadi. Desa Jungutan dan pantauan dari Kantor BPBD menunjukkan Gunung Agung saat ini tertutup mendung tebal.

Gunung suci umat Hindu Bali ini sempat erupsi selama tiga menit delapan detik. Erupsi ini terekan di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 milimeter (mm).

Saat ini Gunung Agung masih berstatus siaga atau level tiga. Masyarakat di sekitar Gunung Agung, termasuk pendaki, pengunjung, wisatawan diimbau tidak melakukan pendakian dan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya dalam radius empat kilometer (km) dari kawah puncak.

Masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai yang berhulu di gunung suci umat Hindu Bali itu diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder, seperti lahar hujan yang bisa saja terjadi pada musim penghujan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA