Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Muslim di Denpasar Gelar Tradisi Megengan Sambut Ramadhan

Kamis 02 May 2019 09:53 WIB

Red: Christiyaningsih

Sejumlah umat Islam berbuka puasa bersama dalam tradisi megibung di Masjid Al Muhajirin, Kepaon, Denpasar, Bali, Sabtu (26/5).

Sejumlah umat Islam berbuka puasa bersama dalam tradisi megibung di Masjid Al Muhajirin, Kepaon, Denpasar, Bali, Sabtu (26/5).

Foto: Antara/Wira Suryantala
Megengan adalah tradisi mengirim doa kepada leluhur oleh para Muslim di Denpasar.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Muslim perantau di Kota Denpasar mengadakan tradisi megengan menjelang Ramadhan. Salah satunya seperti yang dilakukan jamaah Mushala Al-Hidayah Gatsu, Denpasar, dengan mengirim doa dan bersedekah makanan dan minuman.

"Karena kampung halaman kami jauh dan kita tidak bisa berziarah ke makam orang tua menjelang Ramadhan, maka kami kirimkan doa dari sini," kata Pembina Yayasan Al-Hidayah Gatsu, H Daldiri, saat memimpin megengan di mushala setempat, Rabu (2/5) malam.

Menurut dia, tradisi megengan atau kirim doa di mushala yang dibinanya itu dilakukan setiap tahun. Megengan dilakukan untuk menunjukkan bakti kepada orang tua meskipun orang tua itu telah lama meninggal dunia.

"Inti dari tradisi yang kita warisi dari leluhur kita di Jawa itu memang mendoakan orang tua dan leluhur yang sudah lama meninggal dunia sekaligus bersedekah," katanya di hadapan ratusan jamaah mushala di kawasan kampung Jawa itu.

Acara megengan berlangsung setelah shalat Maghrib hingga pukul 20.30 WITA. Para Muslim perantau memberikan sedekah nasi kotak untuk megengan kepada panitia sejak sore. Kemudian, panitia menyodorkan kertas untuk diisi dengan nama-nama leluhur yang akan dikirimi doa.

Setelah terkumpul, ratusan nama leluhur yang dikirimi doa itu dibagi rata kepada beberapa pengurus untuk dibaca secara bersama-sama. Ini karena jika dibaca oleh satu orang akan memerlukan waktu yang lama, apalagi setiap jamaah mushala menyetorkan tiga sampai lima nama leluhurnya.

Hanya sekitar 10-15 menit, ratusan nama leluhur itu pun selesai dibacakan. Daldiri dan beberapa pengurus mushala pun memimpin pembacaan Yasin dan tahlil yang diikuti seluruh jamaah yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan. Setelah pembacaan Yasin dan tahlil yang diakhiri dengan doa selesai, nasi kotak yang ada pun dibagikan kepada jamaah yang hadir untuk dibawa pulang.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA