Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Suspect DBD di Bandung Barat Meningkat, Satu Meninggal

Rabu 23 Jan 2019 01:17 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Andri Saubani

Aktivitas pengasapan (fogging) mencegah jentik nyamuk penyebab demam berdarah dan chikungunya.

Aktivitas pengasapan (fogging) mencegah jentik nyamuk penyebab demam berdarah dan chikungunya.

Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Jumlah suspect DBD di Bandung Barat meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, NGAMPRAH -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat mengungkapkan jumlah warga yang suspect penyakit demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari mengalami peningkatan dibandingkan Januari pada 2018 lalu. Bahkan, salah seorang warga meninggal akibat terserang penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat, Hernawan mengungkapkan, peningkatan suspect DBD mencapai dua kali lipat dibandingkan periode tahun sebelumnya. Hal itu berdasarkan laporan yang diperoleh dari puskesmas.

"Kurang lebih hampir dua kalinya dibanding periode yang sama berdasarkan laporan yang diterima dari puskesmas," ujarnya saat dihubungi via sambungan telepon, Selasa (21/1). Saat dikonfirmasi terkait data lebih lengkap, dirinya mengaku belum memegang data terbaru.

Ia menuturkan, beberapa warga yang dirawat di rumah sakit salah satunya berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, Kota Cimahi. Dirinya mengungkapkan, penyebab banyaknya yang suspect DBD karena faktor musim hujan.

"Musim hujan mendukung ke lingkungan gak baik. Banyak genangan air di kaleng, ban bekas yang suka (disimpan) diluar menjadi tempat wadah perkembangbiakan nyamuk," katanya.

Hernawan menambahkan, pihaknya terus mendorong agar masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk termasuk salah satunya melakukan fogging di masyarakat. "Dari keterangan rumah sakit, satu orang meninggal," katanya.

Hernawan mengungkapkan, pihaknya melalui petugas dilapangan mendorong agar suspect DBD tidak terus bertambah dan berharap tidak sampai menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) untuk peristiwa tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA