Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Masyarakat Diminta Bersihkan Medsos dari Hoaks

Kamis 10 Jan 2019 15:09 WIB

Red: Fernan Rahadi

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi Kick Out Hoax di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1).

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi Kick Out Hoax di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1).

Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Perlu adanya gerakan Hari Bebas Kebencian untuk perdamaian bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia bisa menjadi titik rawan dari provokasi dan fitnah bernafas kebencian di media sosial (medsos). Hal ini dikarenakan ujaran kebencian dan berita bohong (hoaks) menjadi alat yang mampu merusak kerukunan menjadi konflik dan persatuan menjadi perpecahan. Gesekan antar masyarakat di dunia nyata menjadi rawan akibat provokasi kebencian di dunia maya.

Meski penegakan hukum marak dilakukan bagi penebar ujaran kebencian dan hoaks, namun hal itu seakan tidak menyurutkan para pelaku ujaran kebencian dan hoaks di medsos. Untuk itu di tahun 2019 ini perlu adanya gerakan Hari Bebas Kebencian (#HateFreeDay) untuk perdamaian bangsa demi mewujudkan persatuan di masyarakat.

“Tahun 2019 ini kalau bicara merefleksikan diri  kita harus berhati-hati dalam menghadapi berita yang terdengar mengerikan atau bombastis. Kita harus lebih bijaksana untuk memikirkan ulang semua berita yang masuk ke dalam telinga, mata dan bahkan pikiran kita bahwa tidak semua yang disiarkan itu adalah kebenaran. Ini penting agar medsos bersih dari ujaran kebencian dan hoaks,” ujar artis dan presenter Olga Lydia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Olga, jika ujaran kebencian dibiarkan berkembang tanpa penindakan dari aparat yang berwenang, maka bisa dibayangkan hanya segelintir kelompok orang yang diuntungkan dengan pemerintahan yang goyah tersebut. Akibatnya, ratusan juta orang akan menderita karena ekonomi mandeg, bisnis mandeg, keamanan tidak terjamin.

“Kalau pemerintahan tidak kokoh, tentunya tidak akan ada investasi dan sebagainya. Ini yang akan sangat berbahaya kalau dibiarkan,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 4 Desember 1976 ini.  

Di tengah situasi politik yang semakin memanas jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019), Olga meminta masyarakat untuk bisa menahan diri agar tidak mudah terprovokasi terhadap hasutan kebencian baik di dunia maya ataupun di dunia nyata. Karena ujaran kebencian yang viral dan bisa mempengaruhi banyak orang akan menimbulkan keresahan bahkan ketakutan.

“Kita harus berhati-hati dalam membaca berita yang dapat membuat kita takut, marah, benci, emosi. Mungkin perlu dicek lagi kebenaran berita itu, jadi masyarakt harus bisa menahan diri juga, jangan mudah terpancing,” ajak Olga yang juga aktivis anti hoaks ini.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA