Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Implementasi Sistem Peringatan Dini Gempa Dikaji di Padang

Jumat 07 Dec 2018 12:27 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Indira Rezkisari

Alat pendeteksi gempa

Alat pendeteksi gempa

Foto: Wikipedia
Sistem termasuk bisa meminimalisir dampak sekunder gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang menggodok implementasi Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS). Rencananya, sistem yang bisa memberi tahu potensi guncangan gempa ini akan diterapkan pertama kali di Kota Padang, Sumatra Barat mulai tahun 2019 mendatang.

Secara sederhana, sistem ini bukan bertujuan meramal kapan terjadi gempa bumi besar. Namun lebih kepada memberi peringatan kepada warga bahwa akan terjadi guncangan merusak dalam hitungan beberapa detik. BMKG berpandangan, hitungan detik saat terjadi gempa bumi sudah sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan, konsep dasar EEWS menggunakan end to end system yang mampu memberikan peringatan dini terkait bahaya guncangan tanah yang ditimbulkan akibat gempa bumi. Konsep ini memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P dan gelombang S, dua gelombang yang tercatat saat terjadi gempa bumi. Dalam setiap guncangan, gelombang P tiba lebih awal baru diikuti gelombang S yang sifatnya merusak.

Jadi ketika sensor seismograf merekam datangnya gelombang P, alat akan secara spontan mengabarkan perkiraan tingkat guncangan dan waktu tiba gelombang S. Nantinya sensor-sensor ini akan diletakkan di sekitar Kepulauan Mentawai yang dianggap paling dekat dengan sumber gempa bumi, yakni Megathrust.

Rahmat memberi gambaran, bila pusat gempa terjadi di sekitar Mentawai, maka ada jeda waktu sekitar 50 detik hingga gelombang S (gelombang merusak) tiba di Kota Padang, dengan asumsi gelombang S merambat 3,5 km per detik. Bila sensor diletakkan di Kota Padang, tentu jeda waktu tiba antara gelombang P dan S akan semakin sempit.

"Berkaca pada gempa Palu dan Lombok, kita berpikir harus mengembangkan sistem ini. Paling tidak, dengan sistem ini, kami bisa berikan peringatan kepada masyarakat khususnya di Kota Padang untuk evakuasi meski waktunya hanya berapa detik," jelas Rahmat, Jumat (7/12).

Tahapan EEWS bisa dirangkum dalam tiga bentuk. Pertama di hulu adalah mendeteksi gempa bumi secara cepat, kedua adalah penyebaran informasi kepada masyarakat, dan ketiga adalah saran untuk evakuasi. EEWS, ujar Rahmat, juga bermanfaat untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur vital di suatu wilayah yang memiliki potensi tingkat kerusakan bangunan yang tinggi akibat guncangan yang ditimbulkan gempa bumi.

"Misalnya pembangkit listrik dan pabrik, sistem kelistrikan dan mekanik bisa langsung dimatikan saat peringatan ada. Juga mengurangi dampak sekunder gempa bumi seperti kebakaran," ujar Rahmat.

Rahmat menambahkan, diseminasi informasi peringatan dini gempa bumi bisa memanfaatkan radio-radio di Kota Padang, perangkat pengeras suara masjid-masjid yang tersebar di Kota Padang, hingga melalui aplikasi di ponsel. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, ujar Rahmat, juga sudah memberi lampu hijau bagi BMKG untuk mengembangkan EEWS.

"Ini semoga di 2019 ini, Sumbar akan menjadi pilot project. Tak hanya Sumbar, nanti bertahap seluruh kota di Indonesia," kata Rahmat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA