Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

BKKBN Jabar Rangkul Milenial Sosialisasikan Kependudukan

Ahad 18 Nov 2018 19:05 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

BKKBN sosialisasi program KB ke milenial lewat temu komunitas sineas dan fotografi di Kota Bandung

BKKBN sosialisasi program KB ke milenial lewat temu komunitas sineas dan fotografi di Kota Bandung

Foto: Foto: Arie Lukihardianti/Republika
Dengan program Keluarga Berencana (KB) angka kelahiran ditekan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Untuk menghadapi bonus demografi 2020, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) membentuk kaum milenial kreatif. Pasalnya, daya saing di antara umur produktif nantinya akan meningkat. Karena, kondisi kependudukan Indonesia 20 sampai 30 tahun sebelumnya berbentuk piramida. 

"Artinya angka kelahiran besar. Sehingga, penduduk anak-anak dan balita banyak," kata Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo, dalam acara Temu Komunitas Sineas dan Fotografer di Kota Bandung, akhir pekan lalu. 

Namun, menurut Sigit, saat ini, dengan program Keluarga Berencana (KB) angka kelahiran ditekan. Jadi, kalau dulu banyak anak, nikah dini, lahir dini. Tapi sekarang, dengan program-program itu sudah bisa berhasil menekan. 

"Sekarang bentuknya granat, besarnya di tengah, itulah ciri-ciri bonus demografi," ujar Sigit. 

Sigit menjelaskan, modal utama program BKKBN adalah komunikasi pada masyarakat. Oleh karena itu, dia menggelar acara temu komunitas ini sebagai salah satu komunitas pelaku komunikasi kekinian. 

"Kami ingin menyampaikan apa kebutuhan kami. Kelompok milenial ini sangat aktif dalam hal kreatifitas disesuaikan dengan teknlogi zaman sekarang jadi berharap bisa sinergi," katanya.

Kegiatan ini, merupakan bagian dari program BKKBN untuk menyosialisasikan program pada generasi milenial. Karena, semua zamannya digital, dia berharap komunitas ini bisa mensosialisasikan kembali informasi, yang diperoleh pada  kelompok milenial di lingkungan mereka.  

"Mereka pun harus beralih tak terjerumus sosialaisasi yang sifatnya hoaks. Menghadapi era 4.0 kita harus bisa. Karena, tantangan kedepan kalau tak dimanfaatkan kita akan terlibas tak punya kesempatan. Era lebih terbuka, maju sangat pesat dan harus disesuaikan," paparnya.

Dalam temu komunitas sineas dan fotografer ini, menurut Sigit, hasil karya milenial akan dikompetisikan agar mereka bisa menyampaikan aspirasi secara besar. Tapi, hasilnya kita memberikan aperesiasi. 

Selain itu, kata dia, akan dilihat seberapa jauh efektifitas karya yang mereka buat bisa d tangkap oleh komunitas yang ahli dalam bidang komunikasi. Serta, sejauh mana esensi dan kreatifitas mereka dalam menghasilkan produk efektif yang berdampak pada mereka.

"Kan mereka mempublish juga karyanya ke Medsos, nanti akan kami lihat dampaknya. Cara-cara ini zaman sekarang pas," katanya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA