Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Freeport Bina Pengusaha Lokal Papua

Jumat 19 Oct 2018 01:30 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Satria K Yudha

Para pekerja yang menjadi pengemudi truk tambang berukuran raksasa sebelum menggunakan kendaraan yang sesungguhnya, PT Freeport Indonesia mengharuskan menjalani pelatihan dengan peralatan canggih seperti simulator yang ada di Timika.

Para pekerja yang menjadi pengemudi truk tambang berukuran raksasa sebelum menggunakan kendaraan yang sesungguhnya, PT Freeport Indonesia mengharuskan menjalani pelatihan dengan peralatan canggih seperti simulator yang ada di Timika.

Foto: Republika/Maspril Aries
Program pembinaan diarahkan untuk sektor peternakan, pertanian, dan perikanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Freeport Indonesia melakukan pembinaan terhadap 118 pengusaha lokal di Papua. Pembinaan ini merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) perusahaan kepada warga sekitar. 

Senior Vice President Community Affairs Freeport Indonesia Claus Wamafma mengklaim, program pembinaan tersebut berdampak terhadap pembukaan lapangan pekerjaan baru yang dijalankan para pengusaha lokal. "Ada setidaknya 1.036 lapangan pekerjaan baru," kata Claus dalam keterangannya, Kamis (18/10). 

Dia menambahkan, dana CSR di sektor ekonomi tersebut disalurkan ke bidang peternakan, pertanian dan perikanan. "Jumlah total bantuan yang telah tersalurkan sekitar Rp 52,3 miliar," katanya. 

Claus mengatakan, Freeport juga menyalurkan CSR untuk sektor lainnya. Pada sektor kesehatan, Freeport Indonesia mencatatkan 170 ribu kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan yang dibangun dan dibiayai dari Dana Kemitraan Freeport bagi Pengembangan Masyarakat. 

Adapun dalam sektor pendidikan, Claus menyebut Freeport melalui dana kemitraannya yang dikelola Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) telah memberikan sedikitnya 650 beasiswa per tahun untuk warga asli Papua. Melalui Institut Pertambangan Nemangkawi yang didirikan, Freeport Indonesia juga menghasilkan lebih dari 3.000  lulusan yang sebagian besarnya telah bekerja di perusahaan dan kontraktor. 

"Terakhir, kami juga mendirikan asrama untuk kurang lebih 800 orang lebih anak Papua yang tengah menuntut ilmu baik di Jawa dan Papua," tambah Claus.

Menurutnya, program CSR merupakan salah satu elemen penting dalam kegiatan operasional suatu perusahaan. Konsep CSR yang komprehensif akan mampu menghadirkan manfaat bagi pemangku kepentingan, menciptakan hubungan yang harmonis antara pelaku usaha, pemerintah dan warga. 

Dia mengatakan, program-program CSR Freeport mendapatkan penghargaan dari beberapa lembaga. Terbaru, Freeport mendapatkan apresiasi pada acara Top CSR Award 2018 yang digelar pada awal Oktober.  Salah satu penghargaan diberikan untuk kategori program infrastruktur. Penghargaan ini diberikan atas bantuan pembangunan infrastruktur yang dilakukannya di Timika, seperti pembangunan Bandara Internasional Mozes Kilangin dan Kompleks Olahraga Mimika.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA