Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

BNI Bersama Mandiri Bangun Hunian Sementara

Rabu 17 Oct 2018 12:12 WIB

Red: Gita Amanda

Warga berdiri di jalan batas kampung yang hilang terseret liquifaksi atau pencairan tanah akibat gempa bumi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (8/10).

Warga berdiri di jalan batas kampung yang hilang terseret liquifaksi atau pencairan tanah akibat gempa bumi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (8/10).

Foto: ANTARA FOTO
Huntara tersebut untuk menampung para korban yang rumahnya hancur diterjang gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, SIGI -- Dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri sedang membangun hunian sementara (huntara) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Huntara tersebut untuk menampung para korban yang rumahnya hancur diterjang gempa bumi dan tsunami serta likuifaksi pada 28 September 2018.

Asisten II Sekab Sigi Iskandar Nontji Rabu (17/10), mengatakan di Kabupaten Sigi sudah kemarin sudah dimulai pembangunan huntara pada dua lokasi yang ditangani Bank BNI dan Bank Mandiri. Hunian sementara bagi warga korban gempa di wilayah Sibayala Selatan, Kecamatan Dolo, sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) dibangun oleh Bank Mandiri sementara untuk korban gempa di daerah yang sangat parah terdampak likuifaksi di Desa Jonoge, Kecamatan Sigi Biromaru, sebanyak 300 unit dilakukan oleh Bank BNI.

Lokasi permukiman sementara di dua wilayah Sigi berada di atas tanah milik pemerintah desa dan masyarakat setempat. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kata Iskandar, Pemkab Sigi tentu akan membuat nota kesepakatan dengan pemilik lahan, meski itu hanya untuk sementara.

"Kita akan buat surat pernyataan dan ditandatangani oleh pemilik, desa dan kecamatan," katanya. Dengan demikian, kata dia, ada kekuatan hukum meski pemilik lahan telah memberikan dan meminjamkan tanahnya dengan sepenuh hati untuk digunakan membangun hunian sementara bagi para korban gempa bumi.

Selain di dua wilayah itu, juga akan dibangun hunian sementara di sejumlah titik di setiap kecamatan. Misalkan di satu kecamatan ada 10 desa yang terdampak bencana, maka akan dibangun tiga sampai empat titik lokasi permukiman sementara.

"Dan kita sedang menunggu data akurat mengenai warga yang membutuhkan huntara dari masing-masing wilayah terdampak untuk selanjutnya di tindak-lanjuti pembangunan hunian sementara.

Soal uji kekuatan tanah itu sendiri, kata Iskadar, sebelum dibangun hunian sementara tentu Pemkab Sigi berkoordinasi dengan pihak BMKG. Untuk sementara BMKG sudah memberikan rekomendasi bahwa lokasi-lokasi yang akan dijadikan tempat permukiman sementara cukup aman dari dampak gempa.

Data sementara bangunan rumah yang rusak berat akibat bencana di Kabupaten Sigi tercatat sekitar 10 ribu unit tersebar di 13 dari 15 kecamatan yang ada di daerah itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA