Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Lahan Persawahan di Yogyakarta Tersisa 53 Hektare

Selasa 16 Oct 2018 15:47 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani membuat talut untuk menahan luapan air di area persawahan Baros, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (2/8).

Petani membuat talut untuk menahan luapan air di area persawahan Baros, Kretek, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (2/8).

Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
Pertanian di Yogyakarta diarahkan untuk edukasi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sawah memang semakin jadi pemandangan langka di Kota Yogyakarta. Walau pemandangan itu masih banyak terlihat di kabupaten-kabupaten lain DIY, khusus untuk Kota Yogyakarta lahan-lahan persawahan semakin berkurang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto mengungkapkan, saat ini luas lahan persawahan yang ada di Kota Yogyakarta tersisa sekitar 53 hektare.

Namun, ia berdalih, arah pertanian yang ada di Kota Yogyakarta memang bukan untuk mengejar produktivitas panen. Menurut Sugeng, kehadiran pertanian di Kota Yogyakarta lebih kepada edukasi dan wisata.

Meski begitu, tentu tetap ada langkah Pemkot Yogyakarta yang bisa diapresiasi. Salah satunya lewat kehadiran Peraturan Wali Kota Nomor 112 Tahun 2017 tentang Pengendalian Lahan Sawah Beririgasi Teknis.

Sugeng berpendapat, peraturan itu merupakan wujud komitmen Pemkot Yogyakarta untuk terus mempertahankan luasan lahan persawahan. Ia menekankan, peraturan itu sekaligus jadi salah satu solusi menyusutnya lahan persawahan.

"Dengan landasan hukum itulah, Pemkot Yogyakarta memberlakukan penundaan pemberian izin perubahan penggunaan lahan sawah menjadi fungsi lain sejak 1 Januari 2018," kata Sugeng saat panen raya padi di Kelurahan Sorosutan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun Sorosutan, Sunarjo menuturkan, saat ini luas lahan pertanian di Kelurahan Sorosutan turut mengalami penyusutan. Sisanya, hanya sekitar delapan hektare.

Padahal, pada akhir 2016 lalu, luas lahan pertanian di Kelurahan Sorosutan masih sekitar 12,9 hektare. Sunarjo menilai, pengurangan lahan persawahan lahan itu sebagian besar karena dijual pemiliknya.

Hal itu dikarenakan hasil-hasil pertanian selama ini dianggap tidak cukup seimbang jika dibandingkan dengan biaya yang ke luar. Termasuk, biaya mengelola lahan pertanian dan beban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Selain itu, ia melihat selama ini pengurangan lahan persawahan banyak terjadi karena sebagian sawah dibangun menjadi indekos. Terlebih, Kelurahan Sorosutan lokasinya memang tidak jauh dari kampus-kampus.

"Hasilnya lebih dirasakan dibandingkan mengelola sawah," ujar Sunarjo.

Namun, ia menekankan, sisa-sisa lahan pertanian yang ada tetap diusahakan agar terus produktif dengan ditanami padi. Dari panen raya yang dilakukan itu saja, satu hektare lahan pertanian berhasil menghasilkan 11,96 ton gabah basah.

Jumlah itu terbilang meningkat dibandingkan gabah basah yang dihasilkan tahun lalu yang hanya sekitar 9,2 ton. Padi yang dihaslilkan sendri merupakan jenis IR 64 yang proses menanamnya menggandeng Kodim Yogyakarta.

Pada kesempatan yang sama, Komandan Kodim (Dandim) 0734/Yogyakarta, Letkol Infanteri Bram Pramudia menuturkan, panen padi di RT 55 RW 13 Kelurahan Sorosutan itu merupakan lahan demplot ketahanan pangan Kodim 0734.

Dari hasil-hasil yang didapatkan selama panen raya, ia mengaku cukup puas. Sebab, hasil panen tahun ini yang dilakukan dengan menanam bibit unggul terbilang lebih baik dibandingkan gabah basah tahun lalu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA