Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Jepang Bantu Pemulihan Pascabencana Sulteng Rp 23 Miliar

Jumat 12 Oct 2018 22:37 WIB

Red: Muhammad Hafil

Suasana salah satu kawasan kota yang telah dialiri listrik pascagempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10).

Suasana salah satu kawasan kota yang telah dialiri listrik pascagempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/10).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Jepang juga mengirimkan Pasukan Bela Diri.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Pemerintah dan perusahaan swasta Jepang memberikan bantuan darurat senilai Rp 23 miliar. Ini sebagai respon terhadap bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

"Kami memberikan bantuan sebagai bentuk respon cepat, sekaligus membagikan keahlian yang dimiliki Jepang dalam pengalaman penanganan bencana," kata Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dalam jumpa pers di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10) malam.

Bantuan darurat senilai Rp 23 miliar yang bertujuan menyelamatkan jiwa para korban terdiri dari penyaluran barang bantuan darurat senilai Rp 3 miliar dan bantuan dari 60 perusahaan asal Jepang sebesar Rp20 miliar.

Jepang juga mengirimkan tim Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Disaster Relief). Sebuah pesawat Hercules C-130-H dan sekitar 50 anggota Pasukan Bela Diri Jepang mengirimkan barang barang bantuan darurat dan mengangkut para pengungsi.

Selain bantuan darurat, Jepang juga memberikan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah bencana yang memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Jepang.

Survei Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) juga akan dilakukan untuk membuat cetak biru rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan konsep build back better.

Kemudian, Jepang juga memberikan bantuan penanggulangan gempa dan tsunami sebagai bentuk dukungan agar tidak jatuh korban dalam jumlah yang besar. Bantuan tersebut berupa  bantuan barang dan non-barang.

Bantuan berupa barang yaitu seismograf atau alat sensor getar pada 93 titik di wilayah Indonesia pada tahun ini. Proyek tersebut merupakan hibah dengan nilai Rp187,5 miliar.

Kemudian, bantuan berupa non-barang yaitu dalam bentuk kerja sama peningkatan kemampuan terkait pemanfaatan informasi bencana melalui penguatan kemampuan pengumpulan informasi bencana guna merumuskan rencana penanggulangan bencana.

Beberapa tenaga ahli penanggulangan bencana dari JICA juga tengah melakukan tugasnya di BNPB dan Kementerian PUPR yang mengemban tugas pemulihan dan rekonstruksi bencana.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA