Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Masih Potensi Likuefaksi, Ibu Kota Sulteng Disarankan Pindah

Jumat 12 Oct 2018 19:13 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Muhammad Hafil

Abdullah (64), salah satu korban selamat dari bencana alam gempa dan pencairan tanah (likuifaksi) duduk disekitar puing rumahnya yang hancur dan tertimbun lumpur di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10).

Abdullah (64), salah satu korban selamat dari bencana alam gempa dan pencairan tanah (likuifaksi) duduk disekitar puing rumahnya yang hancur dan tertimbun lumpur di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10).

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Kondisi bawah tanah di Palu merupakan pasir dengan jenuh air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Potensi kembali terjadinya likuefaksi di Palu, Sulawesi Tengah sangat besar. Hal ini menuntut perlunya kebijakan dalam mempertahankan kota tersebut sebagai ibu kota provinsi.

Ketua Keluarga Alumni Teknik Geologi Gajah Mada (Kageogama) Anif Punto mengatakan, likuefaksi yang terjadi akhir bulan lalu menjadi yang pertama terjadi di Indonesia. Bahkan mencatatkan rekor likuefaksi terbesar di dunia.

"Ada likuefaksi serupa di Alaska tapi tidak semasif ini yang melanda tiga tempat," katanya saat berkunjungng ke kantor Republika.co.id, Jumat (12/10). Untuk diketahui, likuefaksi terjadi di Patebo, Balaroa dan Jono Oge.

Wilayah tersebut bisa kembali mengalami likuefaksinya begitu terjadi gempa besar. Bahkan likuefaksi ini bisa menerjang wilayah lain di Palu. "Palu itu sebagian besar rawan likuefaksi," kata dia.

Sebab, kondisi bawah tanah Palu merupakan pasir dengan jenuh air. Artinya, ketika terjadi sesar, air yang ada dalam pasir tersebut tersebar dan menyebabkan ambles. Beberapa menyebabkan pergeseran pada lapisan atasnya.

Hal ini pula yang membuat banyak korban meninggal pada bencana 28 September tersebut. Tak heran jika wacana perpindahan ibu kota mulai bermunculan.

"Memang agak dilema karena kalau pindah biayanya besar tapi kalau tetap di sana juga, rekayasa teknologinya butuh biaya besar," ujarnya.

Rekayasa teknologi yang dimaksud adalah dengan membangun pondasi hingga dasar agar kuat. Namun pondasi tersebut harus menembus pasir. Namun, risiko terbesar jika bertahan buka lagi materi melainkan nyawa.

Ia melanjutkan, pada 2017 dirinya menjadi Koordinator Tim Peneliti  Ekspedisi Palu Koro. Setelah mempelajari dari berbagai penelitian dan menemukan adanya siklus 100 tahunan. "Gempa besar biasanya memiliki siklus," kata dia.

Pada 1907, ia melanjutkan, terjadi gempa besar disusul pada 1909 gempa yang lebih besar. Pada 2012 juga terjadi gempa besar yang ciri-cirinya sama seperti gempa bumi 1907. "Makanya saat itu ada kesimpulan sementara, akan ada gempa besar. Ternyata saat ini terjadi," ujar dia.

Bukan hanya itu, selain likuefaksi ada yang menarik pada gempa Palu kali ini. Biasanya, terjadinya tsunami dari sejak gempa membutuhkan waktu 20 sampai 30 menit. Namun tidak pada gempa Palu, hanya hanya membutuhkan sekitar tujuh menit setelah gempa untuk kemudian terjadi tsunami.

photo

Catatan sejarah gempa-tsunami di Teluk Palu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA