Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

LIPI Bantah Data Bappelitbang Soal Likuifaksi Bandung

Jumat 12 Okt 2018 18:56 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Salah satu sudut kota Bandung (ilustrasi).

Salah satu sudut kota Bandung (ilustrasi).

Foto: Republika/Imam Budi Utomo
Tanah di Kota Bandung selatan dan timur memiliki struktur tanah lempung.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membantah data dari Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) mengenai beberapa wilayah di Kota Bandung memiliki kerawanan terjadi likuifaksi. Bantahan itu berdasarkan catatan struktur tanah di Kota Kembang itu.

"Tanah di Kota Bandung bagian selatan dan timur memiliki struktur tanah lempung, secara teori tidak akan mengalami likuifaksi," ujar Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (12/10).

Adrin mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Geoteknologi LIPI, struktur bawah tanah di Cekungan Bandung berupa tanah lempung dan tidak ditemukan adanya pasir hingga kedalaman 15 meter.

Untuk bisa terjadi likuifaksi atau hilangnya kekuatan tanah sehingga tidak memiliki daya ikat, ada beberapa syarat seperti adanya pasir di bawah tanah, muka air tanah yang dangkal dan ada sumber titik gempa di wilayah tersebut.

Namun berdasarkan penelitian LIPI bahwa struktur tanah di Cekungan Bandung berupa tanah lempung. Tanah lempung ini merupakan akumulasi dari endapan danau Bandung purba yang telah mengering jutaan tahun lalu. "Berdasarkan teori tanah lempung itu tidak akan mengalami likuifaksi. Lempungnya lempung lunak jadi tidak akan mengalami likuifaksi," kata dia.

Baca juga, Bappelitbang: 10 Kecamatan Bandung Rawan Likuifaksi.

Struktur tanah ini terjadi karena partikel-partikel halus yang tidak mengalami pemadatan akibat kondisi air yang tenang bekas danau purba, sehingga menghasilkan tanah lempung.  "Gak ada endapan lain, ga terendapkan di lapisan lempung itu. Jadi lempung itu tidak mengalami pemadatan sehingga kondisi sekarang masih lunak," katanya.

Menurutnya, masih ada kerawanan lain yang menjadi konsekuensi dari struktur tanah lempung ini yakni getaran atau guncangan yang akan sangat terasa jika terjadi gempa.

Adrin menyebut penguatan getaran atau goncangan keras tersebut dengan istilah amplifikasi.  "Yang harus diwaspadai fenomena amplifikasi atau penguatan getaran gempa. Karena kalau di tanah lunak itu getaran akan terasa kuat," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PIPW), Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso menjelaskan, sejumlah titik di Kota Bandung juga memiliki potensi fenomena likuifaksi.

Berdasarkan penelitian dari Geodesy Research Group, Institute Technology Bandung dan International Decade for Natural Disaster Reduction yang bekerjasama dengan Bappeda Kota Bandung sekitar tahun 1992 sampai 2000, terdapat 10 lokasi di Kota Bandung yang berpotensi likuifaksi.

Lokasi tersebut yaitu Kecamatan Kiaracondong, Antapani, Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong dan Kecamatan Bandung Kidul. "Ke-10 kecamatan tersebut mungkin masih berpotensi atau tidak, nanti perlu didata dan diupdate ulang. Apakah ada penambahan atau pengurangan, itu kan baru potensi saja," katanya

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA