Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Festival Alun-Alun Selatan Angkat Budaya dan Kearifan Lokal

Jumat 12 Okt 2018 18:07 WIB

Red: Yusuf Assidiq

Gelaran Festival Alun-alun Selatan yang berlangsung tahun lalu.

Gelaran Festival Alun-alun Selatan yang berlangsung tahun lalu.

Foto: Dokumen.
Festival ini merupakan bagian dari Festival Sumbu Filosofi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Pariwisata DIY kembali menggelar Festival Alun-Alun Selatan. Berlangsung pada Ahad (14/10) mendatang di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta, festival ini bertujuan mengembangkan dan mengangkat kearifan lokal serta potensi budaya wilayah setempat.

Berbagai kegiatan dan acara bakal dihelat. Acara dimulai pukul 19.00 WIB dimeriahkan atraksi budaya yakni tari-tarian tradisional. Selain itu pula ada suguhan musik dari grup band ternama di Yogyakarta maupun kancah nasional.

Di antaranya Bhatara Band, Jikustik, dan Brisia Jodie finalis Indonesian Idol. Acara dimeriahkan juga oleh band asal Imogiri Yogyakarta NDX A.K.A yang bergenre Hip Hop Dangdut. "Dengan kegiatan pengembangan atraksi wisata budaya guna meningkatkan kunjungan wisatawan dan lama tinggal ke Yogyakarta," kata Kasubag Umum Dinas Pariwisata DIY, Endang Widuri, Jumat (12/10).

Menurutnya, acara ini gratis untuk umum. Ia menuturkan festival bakal berlangsung spektakuler karena selain penampilan musisi terkenal, juga didukung dengan sound dan lighting yang maksimal. Sehingga akan menghibur dan memberi kesan tersendiri bagi pengunjung.

Dijelaskan, Festival Alun-Alun Selatan ini merupakan bagian dari Festival Sumbu Filosofi. Berbagai acara dalam Festival Sumbu Filosofi seperti Malioboro Night Festival telah diselenggarakan pada Agustus lalu.

Kemudian, Festival Panggung Krapyak diselenggarakan di Panggung Krapyak Kandang Menjangan pada Kamis (11/10), Festival Alun-Alun Selatan akan diselenggarakan Ahad (14/10), serta Festival Bergodo Keprajuritan Keraton Yogyakarta yang akan berlangsung pada November.

 

“Makna dari sumbu filosofi adalah bagaikan perjalanan manusia sejak dilahirkan, tumbuh besar, dewasa, hingga kematian tiba. Perjalanan tersebut dimulai dari Panggung Krapyak menuju Tugu Jogja. Sementara Tugu Jogja menjadi simbol akan hubungan manusia dengan Tuhan-nya,” ungkap Endang, dalam siaran pers. 

Ia menambahkan, golong gilig dapat dimaknai dengan bersatunya antara cipta, rasa, dan karsa di mana manusia tumbuh dengan keseimbangan dunia dan akhirat. Adanya Jalan Margo Utomo atau Tugu Jogja ke selatan dapat diartikan sebagai jalan menuju keutamaan.

“Di antara Keraton Yogyya dan Tugu terdapat Pasar Beringharjo yang dimaknai dengan godaan duniawi, dengan demikian adanya Festival Sumbu Filosofi ini diharapkan masyarakat Yogyakarta dapat memahami arti penting sumbu filosofi,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA