Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Dua Patahan Aktif Berpotensi Timbulkan Gempa di Surabaya

Kamis 11 Oct 2018 15:14 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Esthi Maharani

Pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo

Pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo

Foto: Dadang Kurnia / Republika
Kedua patahan yang dimaksud yakni patahan Surabaya dan patahan Waru.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo mengungkapkan adanya dua patahan aktif yang melintasi dan berpotensi menimbulkan gempa di Kota Surabaya. Kedua patahan yang dimaksud yakni patahan Surabaya dan patahan Waru.

Adanya dua patahan aktif tersebut membuat Amien tertarik untuk meneliti kondisi tanah di Kota Pahlawan ini. Penelitian ini ditujukan sebagai sarana mitigasi agar bisa menekan kerugian baik materiil ataupun nonmateriil jika gempa tersebut nantinya benar-benar terjadi di Surabaya.

Amien menjelaskan, patahan Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme. Sedangkan patahan Waru yang lebih panjang lagi melewati Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan, bahkan sampai Cepu.

“Dengan adanya data seperti ini, kita harus memetakan dampak akibat gempa yang dihasilkan,” kata Amien di Surabaya, Kamis (11/10).

Amien menyampaikan selain dipengaruhi kuat oleh struktur bangunan, kondisi tanah juga menjadi parameter untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh gempa. Sebab, tanah memiliki karakteristik yang berbeda saat dikenai beban gempa tersebut.

“Tanah memiliki karakter sendiri saat terkena gempa, mereka bisa saja mengalami likuifaksi ataupun amplifikasi,” ujar Amien.

Pria dengan bidang keahlian Geologi Bahaya itu menuturkan, likuifaksi merupakan peristiwa yang terjadi pada tanah yang memiliki lapisan pasir. Di dalam tanah tersebut terdapat air dalam kondisi jenuh yang kemudian akan mendorong ke atas dan mengakibatkan pasir dan air langsung keluar.

Lebih lanjut, Kepala Laboratorium Geofisika Teknik dan Lingkungan ini mengungkapkan, untuk kawasan Surabaya Timur dan Utara yang jenis tanahnya berupa endapan rawa lebih berpotensi untuk mengalami amplifikasi. Di mana amplifikasi tersebut merambat melalui tanah yang lunak dan menghasilkan amplitudo yang besar.

"Pembesaran ini yang nantinya akan memengaruhi energi dari gempa tersebut. Dengan kata lain kekuatannya akan berlipat beberapa kali,” kata Amien.

Ditanya mengenai cara pencegahannya, Amien menyebutkan, pemadatan tanah menjadi salah satu hal yang solutif untuk dilakukan. Selain itu, penggunaan fondasi tiang pancang pada bangunan bertingkat juga bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari amplifikasi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA