Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Cerita Menembus Malam Melintasi Trans-Sulawesi Menuju Palu

Sabtu 06 Oct 2018 05:17 WIB

Red: Andri Saubani

Sejumlah kendaraan melintas di kawasan yang terdampak gempa dan tsunami di Jalan Ponegoro Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10).

Sejumlah kendaraan melintas di kawasan yang terdampak gempa dan tsunami di Jalan Ponegoro Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10).

Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Waktu tempuh Mamuju menuju Palu melalui jalan darat berkisar delapan jam.

REPUBLIKA.CO.ID, Laporan wartawan Republika, Fuji E Permana dari Palu.

Menjelang magrib, matahari senja masih menerangi jalan Trans-Sulawesi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pada Kamis (4/10) sore itu, mobil Innova putih melaju perlahan menyusuri jalan panjang Trans-Sulawesi untuk melintasi lima kabupaten sebelum sampai ke Kota Palu.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga hari ketujuh evakuasi korban bencana gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Donggala dan Kota Palu mencapai 1.571 orang. Warga Mamuju di Bandara Tampa Padang mengungkapkan, gempa bumi di Kota Palu terasa sampai bandara.

Saking besarnya gempa bumi mengguncang Palu, Donggala dan Sigi, tiang listrik di Bandara Tampa Padang bergoyang sangat kencang dan membuat warga Mamuju panik. Beberapa saat setelah gempa bumi, wilayah Palu dan Donggala diterjang tsunami yang banyak merenggut korban jiwa.

Jalan Trans-Sulawesi tidak cukup lebar untuk ukuran jalan penghubung antar provinsi. Selain itu jalannya berkelok-kelok sangat tajam, naik dan menurun. Hal yang memprihatinkan, Jalan Trans-Sulawesi tidak memiliki lampu penerang jalan (PJU) yang cukup.

Akibat tingkat kesulitan jalan yang lumayan dan minimnya PJU, pengendara roda dua maupun roda empat harus sangat ekstra hati-hati jika melintasinya. Lampu kendaraan menjadi syarat utama menembus malam melintasi Jalan Trans-Sulawesi.

Minimnya PJU bisa mengakibatkan kecelakaan fatal, kondisi ini juga terkesan mengabaikan keselamatan pengendara. Namun, Jalan Trans-Sulawesi melintasi hutan dan kebun kelapa sawit jadi bisa dimaklumi jika dipasang PJU bertenaga surya akan ada kekhawatiran terjadi pencurian PJU bertenaga surya.

Mobil innova yang kami kendarai memuat delapan orang tim rescue Dompet Dhuafa dan jurnalis. Kami dari Mamuju memasuki Kabupaten Mamuju Tengah. Di Mamuju Tengah, mobil harus mengisi penuh bahan bakar di SPBU yang masih buka. Sebab sempat terjadi kelangkaan bahan bakar premium di Jalan Trans-Sulawesi khususnya di daerah Mamuju.

Saat mobil yang kami kendarai mengisi bahan bakar juga harus antre cukup lama. Selain itu, SPBU dijaga petugas agar tidak ada konsumen yang membeli bahan bakar berlebihan. Namun, kendaraan lembaga kemanusiaan mendapat pengecualian. Kami bisa membeli ekstra bahan bakar untuk kebutuhan posko induk dan kendaraan tim rescue.

Saat menembus malam melintasi Jalan Trans-Sulawesi dari Mamuju Tengah ke Mamuju Utara, sempat terjadi hujan di beberapa wilayah. Hujan cukup menghambat penglihatan pengendara ditambah jalan yang minim PJU. Jika kondisi hujan, pengendara harus menambah kehati-hatian.

Menurut sopir yang sudah terbiasa melewati Jalan Trans-Sulawesi, dari Kabupaten Mamuju ke Kota Palu membutuhkan waktu delapan jam. Namun, jika ada hambatan lain bisa lebih lama.

"Biasanya dari Mamuju ke Palu rata-rata bisa ditempuh delapan jam, tapi bisa sampai sepuluh jam kalau macet," kata Nunu, sopir mobil Innova yang kami kendarai.

Begitu sampai ke Kabupaten Pasangkayu, berdasarkan informasi di perjalanan biasanya mobil pengangkut logistik dan bahan bakar minyak dikawal aparat keamanan. Tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya penjarahan terhadap mobil pengangkut logistik dan bahan bakar.

Sebelum masuk ke Kabupaten Donggala yakni lokasi yang diterjang tsunami, kami istirahat sejenak di Masjid Al Madaniah, Pasangkayu. Tujuannya untuk memantau situasi jalur yang akan dilintasi guna memastikan keamanan. Menjelang shalat Subuh kami melanjutkan perjalanan menuju Donggala dan Palu sebelum jalanan macet oleh mobil-mobil besar.

Saat fajar pagi mulai menyinari jalan, nampak di kanan dan kiri rumah-rumah roboh. Seperti dugaan, kami telah memasuki wilayah Donggala. Mulai nampak anak-anak korban gempa bumi dan tsunami meminta bantuan di pinggir jalan dengan mengasongkan kardus atau ember. Pemandangan ini menjadi pemandangan biasa di wilayah Donggala dan Palu. 

Sekitar jam 07.30 WITA, kami sampai di Kota Palu, tepatnya di Pos Induk Dompet Dhuafa di Jalan Dr. Wahidin. Kami sampai dengan selamat di Pos Induk Dompet Dhuafa dan bertemu dengan relawan yang sudah ada sejak pos didirikan.

Sebelumnya, Bandara Mutiara Sis Al-Jufri di Palu ditutup sehingga penerbangan maskapai komersil tidak ada yang bisa terbang ke Palu. Maka kami harus ke Bandara Hasanudin di Makassar, kemudian melanjutkan perjalanan dengan Pesawat ATR Wings Air selama satu jam dari Makassar ke Bandara Tampa Padang di Mamuju.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA