Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

BNPB: Empat Kecamatan di Sulteng Masih Terisolasi

Kamis 04 Oct 2018 17:58 WIB

Rep: Amri Amrullah, Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani

Warga melihat mobil yang tertimbun lumpur akibat pencairan (likuifaksi) tanah yang terjadi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Warga melihat mobil yang tertimbun lumpur akibat pencairan (likuifaksi) tanah yang terjadi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
25 unit alat berat dikerahkan untuk proses evakuasi korban gempa-tsunami di Sulteng.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Masih ada empat kecamatan di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terisolasi dampak dari bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memaparkan hal ini dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Update Tanggap Bencana Sulteng", bertempat di Lobi Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10).

"Masih ada empat kecamatan yang terisolasi, yaitu Lindu, Kolawi, Kolawi Selatan, dan Titikor. Jadi distribusi bantuan dilakukan menggunakan helikopter, termasuk dropping pasukan," katanya.

Isolasi keempat kawasan itu, menurut Sutopo, terjadi karena jalurnya sulit. "Makanya kami menurunkan personel untuk terus menyalurkan logistik," katanya.

Kini, dari 25 unit alat berat, Sutopo menjelaskan, sudah ada tujuh yang dikerahkan dan rencananya akan segera ditambah. Meskipun terisolasi, Sutopo mengatakan, tim SAR gabungan juga telah berada di sana. Bahkan, sambung dia, Kepala Basarnas juga ada di sana.

"Di sana luas areal sekira 110 hektare, mungkin tidak terlihat lagi. Distribusi bantuan logistik terus berdatangan menggunakan Hercules dan kapal. Distribusi pun dilakukan dengan berbagai cara, ada yang langsung didrop ketempat dan ada juga yang diambil langsung ke posko oleh aparat setempat," pungkasnya.

Ia mengatakan, proses pencarian korban pada Kamis (4/10) difokuskan pada sembilan titik dan dikoordinasikan oleh Basarnas. Menurut dia, dua dari 25 alat berat ditempatkan di Hotel Roa-Roa, empat di Perumnas Petobo, dua di Hotel Mercure, dan sebagainya.

Sutopo menambahkan, sebanyak 21 alat berat masih dalam perjalanan. Selain itu, lanjutnya, akan dikirimkan tambahan alat berat untuk mencari korban dan membersihkan puing.

Sutopo menjelaskan, selain pencarian dan evakuasi korban, tim di lapangan juga terus menyalurkan bantuan dan tenaga medis. Menurut dia, rumah sakit lapangan sudah banyak didirikan. Sementara korban meninggal akan segera dimakamkan setelah setelah dilakukan identifikasi.

Sementara itu, terkait bantuan logistik, Sutopo mengatakan, telah disalurkan melalui tiga jalur, laut, darat, dan udara. "Logistik terus berdatangan, proses distribusi dikawal TNI/Polri untuk antisipasi penjarahan," kata dia.

Ihwal kebutuhan air bersih, menurut dia, saat ini sudah dibuka sumur bor di delapan lokasi. Selain itu, 18 unit mobil tangki air dan 25 hidran umum dengan kapasitas 2.000 liter juga didatangkan dari wilayah lain.

Sutopo mengatakan, tim di lapangan juga terus melakukan percepatan pemulihan infrastuktur. Menurut dia, akses jalan Palu-Donggala, Palu-Mamuju, dan Palu-Poso, sudah terbuka dan dapat dilalui.

Begitu pula transportasi melalui Pelabuhan Pantoloan sudah dapat dilakukan. Ia mengatakan, beberapa warga memilih untuk evakuasi keluar Kota Palu. Sementara Bandara Mutiara Al Jufri sudah melayani penerbangan pesawat komersil, charter jarak pendek, dan pesawat Hercules.

"Kalau kita melihat hari ke hari penanganan menjadi lebih baik. Listrik sebagian sudah menyala dan komunikasi sudah mulai pulih," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA