Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

BNPB Catat Palu dan Donggala Rawan Gempa dan Tsunami

Sabtu 29 Sep 2018 13:52 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan.

Sejumlah pasien mendapat perawatan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Perawatan di luar gedung rumah sakit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan.

Foto: ANTARA FOTO/HO/BNPB Sutopo Purwo Nugroho
Di tahun 1930an, tsunami di Donggala menyebabkan 200 korban jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (28/9) bukanlah yang pertama kali. Berdasarkan catatan sejarah, gempa dan tsunami cukup sering terjadi di wilayah itu.

Sutopo menjelaskan, pada 1 Desember 1927, gempa kekuatan 6,5 skala Richter (SR) mengguncang Kota Palu dan sekitarnya. Gempa yang diakibatkan aktivitas tektonik watusampo itu yang berpusat di Teluk Palu. "Gempa itu menyebabkan 14 jiwa meninggal dunia dan 50 orang luka-luka," kata dia di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9).

Ia melanjutkan, pada 30 Januari 1930 terjadi gempa di pantai barat Kabupaten Donggala. Gempa itu menyebabkan tsunami setinggi dua meter yang berlangsung selama dua menit. Sementara pada 14 Agustus 1938, gempa dengan kekuatan 6 SR yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala.

"Gempa ini menyebabkan tsunami 8-10 meter di pantai barat Kabupaten Donggala," kata dia.

Akibat gempa itu, kata dia, sekitar 200 korban meninggal dan 790 rumah rusak. Selain itu, hampir seluruh desa di pesisir pantai barat Donggala tenggelam.

Sutopo menambahkan, gempa juga terjadi pada 1994 di Kabupaten Donggala yang mengguncang Sulawesi Tengah. Tak hanya itu, pada 1 Januari 1996, gempa dengan kekuatan 7,4 SR berpusat di selat Makassar mengakibatkan tsunami di pantai barat Kabupaten Donggala dan Toli-Toli.

Sementara itu, pada 1996 gempa terjadi di Desa Bankir, Tonggolobibi dan Donggala mengakibatkan sembilan orang tewas dan bangunan rusak parah. Gempa juga menyebabkan tsunami 3,4 meter datang dan membawa air laut sejauh 300 meter ke daratan. Selain it, pada 11 Oktober 1998 Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan 5,5 SR. "Ratusan bangunan rusak parah akibat gempa," kata dia.

Di era 200-an, gempa berkekuatan 6,2 SR terjadi pada 24 Januari 2005 di Sulawesi Tengah. Pusat gempa terletak di 16 km arah tenggara Kota Palu. Sedikitnya, 100 ruma rusak akibat gempa, satu orang meninggal dan empat orang luka-luka.

Pada 17 November 2008, gempa dengan kekuatan 7,7 SR berpusat di Laut Sulawesi dan mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Dampak dari gempa tersebut mengakibatkan empat orang meninggal.

Sedangkan, pada 18 Agustus 2012 gempa dengan kekuatan 6,2 SR terjadi ketika masyarakat sedang berbuka puasa. Delapan orang msninggal dan tiga kecamatan terisolir.

Kali ini, gempa terjadi pada Jumat (28/9) dengan kekuatan 7,4 SR dan menyebabkan tsunami. Setidaknya, hingga Sabtu (29/9) tercatat 48 korban meninggal dunia dan ratusan orang luka-luka.

Menurut Sutopo, Sulawewi Tengah merupakan salah satu wilayah yang rawan gempa, khususnya Kota Palu dan Kabupate Donggala. Pasalnya daerah tersebut dilewati oleh jalur sesar Palu-Koro.

"Memang daerah Palu, Donggala, Sulteng itu merupakan daerah yang rawan tinggi atau risiko tinggi terjadi gempa bumi dan tsunami. Dalam beberapa sejarah kejadian, gempa mematikan diikuti tsunami mematikan terjadi," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB