Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Risma Paparkan Pemulihan Pascateror Surabaya di Forum Dunia

Rabu 26 Sep 2018 00:37 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Dwi Murdaningsih

Tri Rismaharini

Tri Rismaharini

Foto: Republika/Wihdan
Risma meyakinkan warga, tragedi sudah berakhir, dan semuanya kembali terkendali.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi pembicara pada Global Counter Terrorism Forum yang digelar di Roosevelt Hotel, New York, AS, Selasa, (25/9). Pada forum tersebut, wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan itu memaparkan pemulihan Kota Surabaya setelah adanya teror bom beberapa waktu lalu.

Risma memaparkan, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk 3,3 Juta orang. Bahkan menurut survei Gallup World Poll, Surabaya menunjukkan kinerja yang memuaskan dari berbagai aspek, sehingga sangat berkontribusi terhadap kepuasan negara.

“Oleh karena itu, sangat mengejutkan bagi kami dan semua warga Surabaya setelah mendengar bom yang diledakkan di tiga gereja di kota damai kami. Apalagi bom itu sampai menewaskan beberapa orang dan membawa trauma pada warga lain,” kata Risma seperti tertulis dalam keterangan persnya, Selasa (25/9).

Menurut Risma, yang berbeda dari serangan bom di Surabaya adalah melibatkan perempuan dan anak-anak, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Maka dari itu, Pemkot Surabaya bergerak cepat dan melakukan langkah-langkah spesifik dengan menggandeng semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama memulihkan kondisi Surabaya.

“Karena hanya dengan bekerja bersama, kita dapat memiliki lebih banyak kekuatan dan melakukan hal-hal lebih cepat,” ujar Risma.

Risma mengungkapkan, setelah ledakan, dirinya langsung meninjau tiga gereja yang diserang bom, dan langsung mengerahkan jajarannya untuk membersihkan puing-puing di sana. Kerja sama pertama dijalin dengan asosiasi dokter serta semua rumah sakit di Surabaya untuk fokus membantu korban yang terluka.

“Kami juga bekerja sama dengan petugas kepolisian, terutama Detasemen Khusus 88 untuk mengungkapkan data para pelaku. CCTV yang kami pasang di semua area kota telah banyak membantu kami dalam mendapatkan data cepat dari para penyerang,” kata Risma.

Saat itu, lanjut dia, pemkot menghubungkan data dari CCTV dengan database kependudukan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik, dan informasi keluarga pelaku teror. Petugas polisi kemudian melakukan analisis terhadap orang-orang yang mereka temui beserta kegiatan-kegiatannya.

Akhirnya, diketahu para pelaku ini terhubung dengan keluarga lainnya yang melakukan serangan keesokan harinya. “Jadi, data kami juga membantu petugas detasemen khusus untuk mengungkapkan jaringan mereka dalam proses yang cukup cepat,” kata Risma.

Risma melanjutkan, penangkapan beberapa tersangka juga telah menyebabkan trauma bagi anak-anak di sekitar penangkapan. Makanya, pada hari serangan dan beberapa hari setelahnya, Risma memutuskan untuk menghentikan kegiatan sekolah (libur).

Menurutnya, ini penting dilakukan untuk menyembuhkan trauma mereka sebelum dapat kembali lagi ke sekolah. Upaya pemulihan pun  tidak berhenti sampai di situ. Pemkot Surabaya keesokan harinya langsung mengumpulkan berbagai elemen masyarakat dan komunitas untuk bersama-sama mencegah terorisme dan gerakan radikal.

Secara bertahap, ia juga bertemu dengan kepala sekolah dan guru agama, pengurus masjid, dan juga pengamat jentik nyamuk (bumantik) yang biasanya masuk ke rumah-rumah warga. “Mereka kami minta untuk melaporkan kapan pun mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumah warga,” ujar Risma.

Selain itu, ia juga berkomunikasi intensif dengan psikolog untuk membantu membantu para korban dan melakukan pendidikan psiko secara teratur. Sementara di sekolah, terus dilakukan penyembuhan trauma dibantu oleh psikolog dan mengaktifkan program konselor sejawat. Dimana beberapa siswa terpilih dapat membantu mengidentifikasi masalah teman mereka dan mencari solusi bersama.

Setelah teror itu, Risma mengaku terus berusaha meningkatkan kepercayaan warga dan mengubah kondisi kota kembali normal. Sehingga dia secara intensif mengunjungi mal dan tempat umum untuk meyakinkan warga, tragedi sudah berakhir, dan semuanya kembali terkendali.

Artinya, masyarakat diimbau tidak perlu merasa takut untuk melakukan kegiatan normal. “Bagi keluarga korban, kami juga memberi dukungan finansial,” kata dia.

Risma mengaku, teror bom itu juga memberi pelajaran tersendiri bagi Pemkot Surabaya. Sehingha, munculah aplikasi SIPANDU untuk mencegah terorisme dan radikalisme di tengah-tengah warga. Lewat aplikasi ini, warga bisa mengirimkan laporan tentang orang-orang yang mencurigakan di daerah mereka.

Risma berharap, pengalaman Surabaya dalam menangani ancaman terorisme bisa menjadi pelajaran yang melibatkan mitra strategis dan pemangku kepentingan. “Saya kira, ini adalah cara terbaik dalam memerangi ekstremisme kekerasan di tingkat lokal,” kata Risma.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA