Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Tengah Tahun, Ada 42 Penderita HIV Baru di Sleman

Kamis 30 Agu 2018 18:10 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Esthi Maharani

Virus HIV. Ilustrasi

Virus HIV. Ilustrasi

Foto: Dailymail
Temuan baru itu harus jadi perhatian semua elemen

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat hingga Agustus 2018, ada 42 penderita HIV baru. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dulzaini mengatakan tahun lalu ada sebanyak 945 penderita HIV di Kabupaten Sleman. Dari jumlah itu, 105 di antaranya temuan baru.

"Sedangkan, pada 2018 ini, hingga kini telah ditemukan 42 penderita HIV baru di Kabupaten Sleman," kata Dulzaini saat mengadakan penyuluhan penyakit TBC dan HIV di Pondok Pesantren Al Ihsan, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (30/8). 

Ia mengatakan temuan baru tersebut harus menjadi perhatian bersama semua elemen masyarakat. Apalagi kebanyakan penderita sudah terkena HIV jauh sebelum terdata. Misalnya saja, tahun lalu tercatat ada 945 penderita, 840 di antaranya merupakan penderita yang sudah terkena HIV sebelum 2017.

Sementara untuk TBC, Dulzaini mengungkapkan, tahun lalu terdapat 844 kasus di Kabupaten Sleman. Sedangkan, hingga pertengahan tahun atau tutup Juli lalu, pihaknya telah menemukan 505 kasus TBC di Kabupaten Sleman.

"TBC itu penderitanya banyak, tapi yang tercatat hanya sebagian, maka kita targetkan untuk menemukan penderita TBC ini," ujar Dulzaini.

Penyuluhan Tuberculosis dan Human Immunodeficiency Virus itu sendiri memiliki tujuan untuk memerangi penyebaran TBC dan HIV di masyarakat. Penyuluhan jadi salah satu cara untuk membangun kesadaran akan HIV dan TBC.

Pada kesempatan itu, turut hadir Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun. Ia berharap, santri-santri bisa mengenal lebih jauh penyakit TBC maupun HIV sehingga, mereka lebih memiliki kewaspadaan diri. Selain itu, ia turut berharap pemahaman dapat dimiliki masyarakat sekitaran pondok pesantren. Setidaknya, mereka dapat mengenali gejala-gejala kedua penyakit tersebut, agar dapat segera mendapat penanganan yang benar.

"Jika ada gejala-gejala seperti yang dijelaskan jangan malu untuk periksa," kata Sri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA