Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Kota Yogyakarya Bersiap Menjadi 'World Heritage City'

Selasa 14 Aug 2018 17:41 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq

  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X melalukan pertemuan dengan perwakilan dari Unites Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), Richard Engelhardt.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X melalukan pertemuan dengan perwakilan dari Unites Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), Richard Engelhardt.

Foto: Silvy Dian Setiawan.
Menuju World Heritage City, tidak selalu dengan membangun bangunan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X melakukan pertemuan dengan perwakilan dari Unites Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), Richard Engelhardt. Pertemuan membahas mengenai penataan kawasan heritage di Yogyakarta.

Sultan mengatakan, pihak Unesco memaparkan terkait persyaratan maupun hal apa yang perlu dilakukan untuk mendapatkan predikat World Heritage City. Dalam pemaparannya, pihak Unesco memberikan berbagai masukan untuk menata kota namun tetap tidak menghilangkan ciri khas Yogyakarta itu sendiri.

"Persyaratannya gimana, apa yang perlu dilakukan. Soalnya beda, kalau ini kan (Yogyakarta) sumbu filosofi, bagaimana sikap masyarakatnya, ini kan ke arah simbol filosofinya. Jadi mereka tadi mengatakan, jangan hanya bicara history," kata Sultan, di Kepatihan Yogyakarta.

Menuju World Heritage City, tidak selalu dengan membangun bangunan baru. Namun, kata Sultan, bagaimana membuat sebuah kota tetap mempertahankan warisan yang ada, di antaranya bangunan bersejarah yang ada di Yogyakarta.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengungkapkan, Kota Yogyakarta memang merupakan kota yang bersifat heritage. Sehingga, dengan pemaparan dari Unesco, Yogyakarta bisa mendapatkan predikat World Heritage City.

"Jadi beliau ahli sistem penataan kota. Kota Yogyakarta cenderung pada kota heritage, jadi dikembangkan spot-spot tertentu. Harapan kita adalah mendapatkan masukan, guideline (panduan) daru beliau menuju kota World Heritage," kata Haryadi.

Menurutnya, dalam melakukan penataan kota untuk menjadi kota yang modern, tidak harus dengan menghilangkan warisan budaya yang ada di Yogyakarta. Namun, bagaimana hal tersebut dapat lebih dikembangkan sehingga dapat diingat hingga generasi selanjutnya.

"Bagaimana dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Sehingga generasi berikutnya itu gak lupa. Boleh modern, tapi juga landmark dan areanya ini juga terjaga. Yogya ini akan penuh dengan situs budaya dan adanya Unesco membuat guideline untuk how to become the world herritage city," tambahnya.

Ia pun berharap menekankan kepada masyarakat agar tidak khawatir dengan penataan yang akan dilakukan. Sebab, warisan budaya Yogyakarta akan tetap dijaga.

"Saya yakin masyarakat bisa menerima keberadaan rencana Pemerintahan DIY dan Kota Yogyakarta untuk menuju World Heritage City di bawah guidance dari Unesco," ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA