Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Sisa Makanan Dominasi Sampah di Jabar

Kamis 19 Juli 2018 16:06 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Makanan sisa yang dipungut dari tempat sampah di dekat toko bahan makanan.

Makanan sisa yang dipungut dari tempat sampah di dekat toko bahan makanan.

Foto: abc
Di Indonesia setiap harinya terkumpul 10,7 juta kilogram sampah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penjabat Gubernur Jawa Barat H Mochamad Iriawan mendukung peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. Apalagi, tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mengambil tema Kendalikan Sampah Plastik.

Menurut Iriawan,  berdasarkan data United Nations Environment Programme (UNEP) setiap tahunnya ada 8 juta kilogram sampah plastik di lautan sekitar Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand. Sedangkan berdasarkan rilis dari KLHK menyebutkan di Indonesia setiap harinya terkumpul 10,7 juta kilogram sampah, 16 persen di antaranya merupakan sampah plastik.

 

Iriawan mengatakan, untuk skala Jawa Barat, sampah di Jabar saat ini masih didominasi oleh sampah sisa makanan. Sampah plastik, merupakan terbesar kedua setelahnya. Berdasarkan sistem informasi yang ada, sampah sisa makanan paling tinggi di Jabar. Yakni, mencapai 48,77 persen. Nomor dua plastik 13 persen lebih.

"Sisana kahandap aya (sisanya kebawah ada, red) ada kayu, tekstil, logam, karet, kulit, dan sebagainya,” ujar Iriawan, Rabu petang (18/7).

 

Menurut Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nana Nasuha Djuhri, polusi plastik saat ini telah menjadi ancaman, terutama pada ekosistem laut. Namun kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik masih rendah, bahkan kebiasaan membuang sampah ke tempatnya pun belum membudaya.

 

Saat ini, kata dia, kesadaran masyarakat tentang pengurangan penggunaan plastik masih rendah. Belum lagi masih rendahnya kesadaran membuang sampah di tempatnya.

“Plastik yang kita buang akan berakhir di lautan, dan membunuh jutaan burung laut dan ratusan ribu mamalia laut setiap tahunnya,” kata Nana.

 

Sementara menurut Jasubdit Sampah Spesifik dan Daur Ulang KLHK RI Haruki Agustina, tema peringatan hari lingkungan hidup tahun ini, selaras dengan tema World Environment Day 2018 yang dikeluarkan oleh United Nation Environment Programme (UNEP), yaitu “Beat Plastic Pollution”. Pengangkatan tema tersebut, terkait dengan kritisnya kondisi sampah plastik di dunia.

Haruki menilai, plastik yang termasuk sampah tidak terurai ini akan berakhir di laut dan merusak biota di dalamnya. Sebagian besar, katanya, sampah plastik tersebut berasal dari daratan. “Sampah plastik ini merupakan sampah yang tidak bisa terurai, lebih dari 40 tahun di lingkungan. Datang dari darat, berakhir di laut,” ungkap Haruki.

 

“Ternyata data dari kajian ITB, 70 persen sampah di laut berasal dari daratan, sedangkan 30 persen-nya dari aktivitas laut seperti nelayan dan kapal pesiar,” katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES