Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Kemarau, Petani di Selatan Sukabumi Beralih Tanam Semangka

Senin 16 Juli 2018 15:36 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Indira Rezkisari

Petani semangka.

Petani semangka.

Foto: Antara
Kekeringan sudah terasa sejak sebelum puasa tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Sejumlah petani di selatan Kabupaten Sukabumi mulai beralih menanam palawija di awal musim kemarau. Mereka menanam palawija terutama buah-buahan yang dinilai tidak terlalu banyak membutuhkan pasokan air.

‘’Sebagian besar petani sudah tidak tanam padi dan beralih tanam palawija terutama semangka,’’ terang Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade H Sahlan, Senin (16/7). Perubahan jenis tanaman disebabkan faktor perubahan musim dari hujan ke kemarau.

Para petani kata Sahlan, berhenti menanam padi sejak setelah Lebaran lalu karena khawatir kesulitan mendapatkan air. Sebab bila dipaksakan akan berpotensi gagal panen akibat kesulitan pengairan.

Jenis tanaman semangka dipilih karena dianggap tidak terlalu banyak membutuhkan pasokan air. Sementara padi membutuhkan sarana pengairan yang memadai. Terlebih lahan pertanian di Sukabumi mayoritas merupakan sawah tadah hujan.

Sahlan mengungkapkan, para petani yang menanam semangka tersebar secara merata di selatan Sukabumi. Diantaranya di Tegalbuleud, Ciwaru, Ciemas, Ciracap, dan Surade.

Menurut Sahlan, penanaman semangka ini pun tetap harus didukung adanya akses air di sekitar lahan. Bila tidak ada maka tetap berpengaruh pada kualitas pertumbuhan tanaman.

Dampaknya ungkap Sahlan, ada sejumlah petani lainnya yang beristirahat tidak menanam tanaman. Mereka menunggu datangnya hujan yang mengguyur kawasan tersebut untuk bercocok tanam.

Sebelumnya ujar Sahlan, kekeringan sudah terasa sejak sebelum bulan puasa kemarin. Di mana lahan pertanian yang tanaman padinya akan panen mengalami kesulitan pengairan.

Kondisi tersebut menyebabkan hasil panen yang diperoleh petani menjelang lebaran lalu menjadi tidak maksimal. Di mana hasil panen petani menjadi berkurang sekitar 50 persen.

Sahlan menerangkan, awalnya petani tidak memperkirakan akan terjadi kekeringan di musim tanam kedua tersebut. Namun pada saat usia tanaman padi dua bulan terjadi kemarau. Pada momen ini tanaman padi mulai berbuah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Dedah Herlina menambahkan, hingga kini pemerintah belum menerima laporan adanya lahan pertanian yang mengalami kekeringan. ‘’ Wilayah pertanian di selatan dan utara Sukabumi dilaporkan masih aman dari dampak kemarau,’’ cetus dia.

Dedah mengatakan, bila ada laporan kekeringan maka petugas di lapangan akan segera melaporkan untuk diberikan penanganan. Harapannya pada tahun ini dampak kemarau tidak menyebabkan kerugian gagal panen pada petani.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES